Shakespeare adalah penyair Inggris, penulis naskah drama, sekaligus aktor yang diakui sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Beberapa karya Shakespeare, seperti Romeo dan Juliet, termasuk sebagai karya sastra paling terkenal di seluruh dunia. Namun, karya-karyanya pada periode awal dianggap tidak sesuai dengan kualitas artistik drama-drama Marlowe. Ben Johnson (1572-1637), yang juga seorang penulis naskah drama kontemporer, menulis bahwa “kegemilangan Shakespeare dalam menulis karya drama bersumber dari dalam dirinya sendiri, begitu juga kemampuan untuk menguasai karya-karya tersebut”. Pada masanya, Shakespeare telah menggunakan begitu banyak kosa kata- kurang lebih 29,066- kata-kata dalam naskah dramanya. Sebagai perbandingan, pada saat ini masyarakat yang berbahasa Inggris menggunakan sekitar 2.000 kosa-kata dalam percakapan sehari-hari. “Hal yang penting dalam menikmati karya-karya Shakespeare adalah bagaimana anda dapat menerima autoritas dan karakteristik Shakespeare apa adanya” (Ludwig Wittgenstein in Culture and Value, 1980).Tak banyak catatan dalam kehidupan pribadi Shakespeare. Ada rumor yang berkembang bahwa Shakespeare tidak benar-benar menulis karya dramanya. Christopher Marlowe, Ratu Elizabeth atau Edward De Vere (1550-1604) adalah orang-orang yang diidentifikasi oleh T.J. Looney pada tahun 1920 sebagai penulis naskah drama Shakespeare. Suatu kelompok besar yang disebut ‘Oxfordian’ juga ragu-ragu dan sulit memercayai bahwa seorang pria seperti Shakespeare yang berasal dari kalangan rakyat biasa mampu menghasilkan karya tulis yang dapat membuatnya menjadi penulis besar. Menurut para numerologis, Shakespeare menulis Bible versi King James pada usia 46. Buktinya adalah : “ Shake (Guncangan) adalah kata ke 46 dari Mazmur ke-46, sedangkan Spear (Tombak) adalah kata ke-46 dihitung dari belakang, pada Mazmur ke-46.”William Shakepeare lahir di Stratford-upon-Avon, sebuah kota kecil yang terkenal dengan produksi malt-nya. Suatu wabah menular (black plague) telah membunuh 1.500 penduduk kota pada tahun 1564. Shakespeare adalah anak tertua dari Mary Arden, anak perempuan seorang tuan-tanah lokal. Sedangkan suaminya John Shakespeare (1530-1601) adalah seorang pengrajin sarung tangan sekaligus pengusaha di bidang perkayuan. John Aubrey (1626-1697) mengatakan dalam “Brief Lives” bahwa ayah Shakespeare adalah seorang tukang daging, dan ia melatih William muda untuk terjun ke dunia bisnisnya. “Tetapi jika satu saat William harus menyembelih seekor sapi, ia akan melakukannya dengan cara yang terhormat”. Pada tahun 1568 John Shakespeare terpilih sebagai walikota Stanford. Bisnis wol-nya gagal pada tahun 1570an dan pada tahun 1580 -bersama 140 orang lainnya- ia didenda sebesar ¤40 karena dianggap gagal menemukan jaminan untuk mempertahankan perdamaian. Tak ada catatan apakah denda itu akhirnya ia bayar. Beberapa saat kemudian komite gereja melaporkannya beserta delapan orang lainnya bahwa mereka lalai untuk hadir di gereja karena berada dalam ketakutan dalam proses penyelesaian hutang. Nama baik keluarga berhasil dikembalikan pada tahun 1590an oleh William Shakespeare dan pada tahun 1596 ia dianugerahi sebuah lencana kehormatan keluarga (coat of arms).Sangat sedikit orang yang mengetahui masa-masa awal hidup Shakespeare. Karya-karyanyalah yang kemudian menimbulkan berbagai interpretasi akan hal itu T.S. Elliot menulis bahwa “ Saya berkeyakinan bahwa tak ada satu pun dari karya Shakespeare yang memiliki “makna”, walaupun juga merupakan suatu kesalahan jika kita mengatakan bahwa drama-drama Shakespeare tidak bermakna” (dikutip dari Selected Essays, new edition, 1960). Shakespeare diperkirakan memperoleh pendidikan di Stratford grammar School, dan mungkin ia menghabiskan periode 1580-82 sebagai guru untuk Keluarga Katolik Roma Houghton di Lancashire. Saat Shakespeare berusia 15 tahun, seorang wanita dari desa tetangga tenggelam di Sungai Avon. Kematiannya diyakini disebabkan oleh kecelakaan, tapi mungkin pula kejadian itu merupakan suatu upaya bunuh diri. Hal ini kemudian diangkat oleh Shakespeare dalam Hamlet, dengan meninggalkan pertanyaan di akhir cerita tentang penyebab kematian Ophelia, apakah karena kecelakaan, atau karena bunuh diri. Pada usia 18 tahun, Shakespeare menikahi gadis setempat bernama Anne Hathaway (meninggal pada tahun 1623) yang berusia delapan tahun lebih tua. Anak pertamanya, Susannah, lahir dalam enam bulan, dan pada tahun 1585 si kembar Hamnet dan Judith lahir. Hamnet, satu-satunya anak lelaki Shakespeare, meninggal pada tahun 1596 pada usia 11 tahun. Banyak yang meyakini bahwa salah satu dialog King John yang diawali dengan kalimat “Duka cita memenuhi ruangan anakku yang tidak hadir di sini” merupakan cerminan dari kesedihan Shakespeare.Hamlet dicetak pertama kali pada tahun 1603. Hamlet adalah karya drama terbesar Shakespeare, berdasarkan pada drama yang hilang, r-Hamlet. Pangeran hamlet, seorang intelektual yang penuh teka-teki, sedang berkabung atas kematian ayahnya sekaligus atas ibunya yang menikah lagi. Hantu ayahnya kemudian muncul dan memberitahu bahwa Claudius yang menikahi Ratu Gertrude (ibu Hamlet) adalah orang yang meracuninya. Hamlet yang terpana akan permainana yang sedemikian kejam dan licik bersumpah akan membalas dendam. “Waktu telah keluar dari relnya! O kedengkian yang terkutuk! Aku rupanya terlahir untuk membalaskan dendam ini!” Ia pun mementaskan drama yang ceritanya berhubungan dengan tindakan Claudius. Hamlet diyakini sebagai orang yang pemarah dan gila. Ia membunuh seseorang yang mencuri dengar pembicaraannya, Polonius (Seorang anggota kerajaan), dengan menusukkan pedangnya melalui tirai. Anak lelaki Polonius, Laertes, kembali ke Denmark untuk membalas dendam atas kematian ayahnya. Anak perempuan Polonius, Ophelia, mencintai Hamlet. Tetapi kesadisan dan tabiat brutal Hamlet membawanya pada kegilaan. “Pergilah kau ke biara dan bertanyalah : mengapa kau merupakan keturunan dari para pendosa?” Hamlet berkata pada Ophelia, yang kemudian meninggal karena tenggelam. Sebelum pembantaian yang mengakhiri cerita, Hamlet berkata pada teman baiknya, Horatio: “Aku harus memenangkan pertaruhan ini. Tapi mungkin kau tak pernah berpikir betapa sakitnya hatiku ini.” Dan pertempuran itu pun berakhir dengan kematian Gertrude, Laertes, Claudius, dan Hamlet, yang kata-kata terakhirnya adalah “yang tersisa hanyalah kesunyian”
Resensi lain tentang William Shakespeare (1564-1616) -BiographyDaftar Pustaka
William Shakespeare (1564-1616) -Biography oleh Viram Pandey “What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet.” Itulah kalimat yang sangat populer dari drama romantis-tragedi mahakarya William Shakespeare, “Romeo and Juliet”. Shakespeare ingin ngomong, bunga mawar itu kalaupun diberi nama selain “mawar”, bau wanginya akan tetap sama.
Good night, good night!
Parting is such sweet sorrow
That I shall say good night till it be morrow
(Adegan dalam naskah Romeo and Juliet karya William Shakespeare)
PERJALANAN PENGANTEN
Penulis : Ajip Rosidiv
Penerbit : Pustaka Jaya
Tebal : 171 halaman
Terbit : Tahun 1958 dan 1998
Siapakah William Shakespeare? Benarkah dia putra John Shakespeare dan Mary Arden serta lahir di Stratford pada 26 April 1564? Benarkah dia menikah dengan Anne Hathaway, seorang gadis berusia 18 tahun, dan meninggalkannya (serta anak-anaknya) untuk menggeluti kehidupan teater di London? Siapakah the dark lady yang sering disebut-sebut dalam soneta cintanya? Apakah Shakespeare memiliki kisah cinta--selain dengan istrinya--yang terpendam dalam sejarah hingga menghasilkan drama komedi-tragis Romeo and Juliet?
Begitu banyak pertanyaan tentang kehidupan dan latar belakang sang dramawan dalam teater dunia ini, tapi begitu sedikit fakta yang tersedia. Begitu banyak karya mengagumkan yang lahir dari tangannya (18 drama komedi, 10 drama tragedi, 10 drama sejarah, dan ratusan soneta), tapi tak banyak kisah nyatanya yang tercantum dalam sejarah, sehingga sulit untuk percaya bahwa 38 karya itu lahir hanya dari satu orang yang bersahaja. Begitu sulitnya mempercayai kemungkinan itu, hingga ada beberapa buah buku--penganut "teori konspirasi"--yang mencoba membuktikan bahwa sastrawan yang bernama Shakespeare sesungguhnya tidak pernah ada dan karyanya merupakan sebuah hasil kolaborasi dari beberapa seniman Inggris! Teori konspirasi yang cukup kontroversial ini, meski konyol, ternyata dianut oleh sebagian ahli Shakespeare dengan cara mencari kemustahilan bahwa satu orang bisa melahirkan karya yang begitu kontras, antara kisah-kisah tragedi (Hamlet dan Macbeth) dan komedinya yang "ringan" (Twelfth Night).
Film Shakespeare in Love sesungguhnya hanya sebuah interpretasi dari penulis skenario Marc Norman dan Tom Stoppard berdasarkan serpihan fakta yang tercatat dan fiksi berdasarkan ramuan imajinasi yang berkembang dari misteri kehidupan.
Antara tahun 1585 dan 1592, ada kekosongan dalam dokumentasi biografi sang dramawan. Dua tahun kemudian, tiba-tiba saja nama Shakespeare tercatat sebagai seorang aktor dan penulis naskah drama di London. Saat itu, di masa Elizabethan, ada dua panggung teater Inggris yang tengah bersaing, yakni The Curtain dan The Rose. Periode inilah yang kemudian diinterpretasikan oleh Marc Norman dan Tom Stoppard saat naskah Romeo and Juliet lahir bersamaan dengan beberapa soneta cinta Shakespeare. Maka Will Shakespeare (Joseph Fiennes) di tangan sutradara John Madden menjelma menjadi seorang seniman muda yang berapi-api, temperamental, dan penuh bara cinta. Naskahnya yang tengah digarap, berjudul Romeo and Ethel, the Pirate’s Daughter, menemui kebuntuan karena ia tak memiliki siapa pun yang bisa menjadi sumber inspirasinya, apakah itu seorang wanita atau sekuntum mawar. Pertemuannya dengan Lady Viola (Gwyneth Paltrow), seorang putri bangsawan yang terobsesi untuk menjadi aktor panggung, mendadak mengubah hidupnya. Naskah Romeo and Ethel kemudian mengalir dengan deras bak air bah. Nama Ethel, atas saran Ned Alleyn, aktor Inggris terkemuka saat itu, diubah menjadi Juliet. Dramawan Christopher Marlowe bahkan menyumbangkan beberapa adegan dan jalan cerita.
Film yang meraih 13 nominasi Academy Award ini--bersaing dengan Saving Private Ryan karya Steven Spielberg, yang meraup 11 nominasi--berupaya menampilkan satu bait dalam kehidupan Shakespeare yang panjang (dan mungkin kehidupan yang berwarna) tapi tak berhasil menyajikan sesuatu yang istimewa dari sosok dramawan besar itu--kecuali dia masuk dalam kategori seniman stereotip: mudah jatuh cinta, mudah terbakar emosinya, dan mudah meletup-letup dalam gerak dan ekspresi. Ternyata sosok fiktif Lady Viola--diperankan dengan baik oleh Gwyneth Paltrow, yang dinominasikan sebagai aktris terbaik--yang penuh gelora dan gairah terhadap dunia teater, tampil paling bersinar.
Selain akting Paltrow, kemampuan permainan imajinasi dan ramuan sejarah para penulis skenarionya memang patut dipujikan. Beberapa adegan Romeo and Juliet yang terkenal, misalnya upaya Romeo menemui Juliet dengan memanjat kediaman Juliet serta dialog seperti "Parting is such sweet sorrow", kemudian digunakan dalam adegan percintaan antara Will dan Lady Viola. Ini, tentu saja, untuk mengesankan bahwa percintaan terlarang antara sang dramawan dan Lady Viola--yang sudah bertunangan dengan Lord Wessex--telah memberi inspirasi drama cinta Romeo and Juliet.
Sosok Ratu Elizabeth yang dingin, tegas, dan penuh otoritas tapi toh bisa sesekali jenaka itu juga muncul sebagai bintang berkelas. Dame Judy Dench memang seorang aktris panggung Shakespearean yang tak tertandingi ketika memerankan tokoh sekompleks Ratu Elizabeth yang memiliki gairah terhadap dunia teater itu.
Pada akhirnya, Shakespeare in Love bukan hanya persembahan kepada pembaca karya Shakespeare atau penikmat teater belaka. Film ini juga persembahan untuk mereka yang mendalami makna cinta.
Leila S. Chudori
Jatidiri Shakespeare Sebagai Penulis Mulai Diragukan Seniman Inggris
Arwah William Shakespeare di alam penantian saat ini mungkin tengah gundah gelisah. Bagaimana tidak. Di saat dirinya tak bisa melakukan pembelaan diri, ternyata sekitar 300 seniman Inggris mulai meragukan jati dirinya sebagai sastrawan dunia.
Kelompok seniman yang terdiri dari 300 orang itu, di antaranya aktor teater kawakan Inggris Sir Derek Jacobi dan Mark Rylance. Aktivitas kelompok ini adalah melakukan debat publik meluncurkan tentang siapa yang sebenarnya menulis karya-karya sastra, yang populer ditulis oleh William Shakespeare.
Kelompok diskusi itu selanjutnya menerbitkan "deklarasi keraguan yang beralasan", yang mereka harap akan mendorong penelitian lebih lanjut tentang isu ini. Demikian laporan BBC beberapa hari lalu.
"Saya percaya dengan teori yang mengatakan karya-karya itu adalah kolaborasi sekelompok orang. Saya tidak yakin satu orang saja mampu melakukannya," kata Sir Derek Jacobi.
Mereka mengatakan tidak ada catatan bahwa Shakespeare menerima bayaran atas karya-karyanya.
Sementara dokumen-dokumen yang ada tentang Shakespeare, yang dilahirkan di kota Stratford-upon-Avon pada tahun 1564, tidak membuktikan bahwa dia seorang penulis.
Khususnya surat wasiat yang dia tulis, yang meninggalkan istrinya "tempat tidur nomor dua terbaik saya dengan perabotan", dan tidak berisi kalimat-kalimat indah yang membuat dia terkenal dan tidak juga menyebut buku, naskah drama atau puisi karyanya.
Kontroversi Kehidupan-Tulisan
Shakespeare Authorship Coalition yang beranggotakan 287 orang mengatakan drama-drama Shakespeare yang banyak menampilkan rincian tentang hukum tidak mungkin ditulis oleh William Shakespeare, pria kelas bawah, yang berasal dari keluarga buta huruf.
Kelompok ini mempertanyakan apakah satu orang saja mampu menulis karya Shakespeare. Kelompok ini bertanya mengapa sebagian besar karya drama Shakespeare berlatar keluar kelas atas atau bangsawan, dan mengapa kota Stratford-upon-Avon tidak pernah disebut di dalam karya-karya tersebut.
"Bagaimana dia bisa mengetahui kehidupan bangsawan Italia, dan menggambarkan rinciannya dengan akurat?" tambah kelompok itu.
Teori konspirasi tentang penulis karya Shakespeare yang sebenarnya sudah beredar sejak abad ke-18. Berdasarka teori-teori itu, beberapa orang, termasuk penulis drama Christopher Marlowe, bangsawan Edward de Vere dan Francis Bacon dikatakan menggunakan Shakespeare sebagai nama samaran.
"Menurut saya perkiraan terkuat kemungkinan adalah Edward de Vere, karena si penulis menulis tentang pengalamannya, kehidupannya dan sifatnya," kata Sir Derek.
Deklarasi itu, yang diresmikan di Teater Minerva di Chichester, Inggris selatan, juga memuat nama 20 tokoh penting yang pernah meragukan karya Shakespeare, termasuk Mark Twain, Orson Welles, Sir John Gielgud dan Charlie Chaplin.
Salinan deklarasi ini diserahkan kepada Dr William Leahy, dekan Sastra Inggris di Universita Brunel di London dan penyusun jurusan S2 pertama tentang studi tenang siapa penulis karya Shakespeare, yang akan diluncurkan akhir bulan ini.
"Sejak dua tahun ini saja berjuang untuk memasukkan topik ini ke dalam pembahasan akademisi," kata Dr Leahy.
"Ini adalah pertanyaan sah, karena ada misteri dan pembahasan intelektual akan mendekatkan kita ke inti masalah ini."
"Saya tidak mengatakan kami akan mendapatkan semua jawabannya. Bukan itu intinya. Tentu saja, di situ letak pertanyaannya."
Sumber: BBC
William Shakespeare
www.duniasastra.com
Dilahirkan disebuah kota kecil Stratford-upon Avon, Inggris. Ayahnya, John Shakespeare adalah seorang pengusaha kayu dan sarung tangan, sementara ibunya, Mary Arden adalah putri seorang tuan tanah. Tak ada sumber yang pasti yang menyebutkan tanggal lahirnya, selain rujukan bahwa ia dibaptis di Holy Trinity Church pada 26 April 1564. Dan umumnya diketahui bahwa pembatisan dilakukan setelah tiga atau empat hari bayi dilahirkan. Jadi mungkin saja Shakespeare lahir pada 23 april 1564.
Tidak ada dokumen yang merekam secara detil kehidupan masa kecilnya selain diketahui bahwa ia pernah belajar di Stratford Grammar School dan tidak sempat melanjutkan ke Oxford atau Cambridge, dua sekolah prestisius yang berwibawa di Inggris.
Pada tahun 1580 ia menjadi seorang guru bagi keluarga Roman Catholic Houghton di Lanchasire. Dua tahun kemudian ia menikah dengan Anne Hathaway dan dikarunia tiga orang putri.
Kematian salah satu putrinya diusia 11 tahun mempengaruhi karyanya yang penuh duka dan lara.
Karirnya dimulai sejak ia memutuskan untuk hijrah ke London pada tahun 1582 dan bergabung dalam kelompok teater London.Dua tahun kemudian ia muncul sebagai seorang actor yang disegani dan segera melejit menjadi selebritas di London. Ia disebut sebagai Kings Men.
Betapa nasib telah mengubah semuanya. Iapun dikenal public sebagai seorang penyair, dramawan, actor dan penulis yang tangguh.
Dibalik keberhasilannya sebagai penulis, tersebar isu bahwa ia melakukan plagiat atas karya-karya Edward de Vere, Francis Bacon, Christopher Marlowe, Ratu Elizabeth. Bahkan novelis perancis Voltaire menyebut Shakespeare sebagai pemabuk yang tak jelas juntrungannya ( a drunken savage) . TS Elliot, penyair dan esais asal Amerika, walau terdengar agak sopan menulis :”Kesan saya, tak satupun karya Shakespeare memiliki makna, walaupun tidak bisa disamakan dengan karya yang buruk rupa”.
Bebagai tuduhan itu disebarluaskan oleh kubu oxford yang meragukan kemampuannya dalam menulis, terlebih lagi ia berasal dari daerah terpencil sehingga tidaklah mungkin mempunyai pengetahun yang memadai untuk menjadi penulis hebat. Tentu saja kubu Stanford membelanya, menurut kubu ini Shakespeare adalah seorang jenius yang pernah dilahirkan kota mereka.
Kalau memang benar ia menjiplak karya Edward De Vere , mengapa karyanya seperti Machbet,King Lear tercipta setelah kematian Edward ditahun 1604.Begitu menurut alibi mereka.
Terlepas dari berbagi kontroversi yang menerpa karya-karyanya. William Shakespeare meninggalkan karya-karya yang terkenal luas yaitu, Hamlet, Romeo and Juliet, King Lear, Julius Cesar, Othello, Anthony and Cleopatra. Shakespeare meninggal pada 13 April 1616 meninggalkan karya yang abadi.
William Shakespeare (26 April 1564 - 23 April 1616, di Stratford-upon-Avon, Inggris) adalah seorang penulis Inggris yang seringkali disebut orang sebagai salah satu sastrawan terbesar Inggris. Ia menulis sekitar 38 sandiwara tragedi, komedi, sejarah, dan 154 sonata, 2 puisi naratif, dan puisi-puisi yang lain. Ia menulis antara tahun 1585 dan 1613 dan karyanya telah diterjemahkan di hampir semua bahasa hidup di dunia dan dipentaskan di panggung lebih daripada semua penulis sandiwara yang lain.
Kehidupan
Shakespeare lahir di Stratford-upon-Avon, Inggris, pada bulan April 1564, sebagai putra John Shakespeare dan Mary Arden. Ayah William cukup kaya ketika ia lahir dan memiliki bisnis pembuatan sarung tangan namun kemudian ia menjadi agak miskin setelah menjual wol secara ilegal. Shakespeare tidak mengikuti jejak ayahnya.
Pada jaman itu, sekolah umum baru dimulai di Inggris. Sebelumnya, hampir semua anak tidak tahu cara membaca dan menulis, mereka hanya belajar suatu ketrampilan atau bertani. Shakespeare pergi ke salah satu sekolah umum yang baru ini. Ia belajar Latin, yang merupakan bahasa semua kaum terpelajar, tidak peduli dari negara mana mereka berasal. Dari London ke Lisbon, dari Aleksandria ke Konstantinopel, dari Tunis ke Yerusalem, semua orang terpelajar berbicara Latin dan bahasa ibu mereka. Semua dokumen penting, baik dokumen negara, gereja, atau perdagangan, ditulis menggunakan Latin.
Shakespeare juga mempelajari karya-karya para penulis dan filosofer dari Yunani Kuno dan Romawi. Lebih dari 100 tahun berlalu sejak Yohanes Gutenberg memperkenalkan percetakan ke Eropa pada tahun 1452. Shakespeare dan orang Inggris lain yang dapat membaca ─ dan mampu membeli ─ buku-buku menjadi akrab dengan kisah-kisah dari berbagai tempat seperti Italia, Perancis, Asia Minor, dan Afrika Utara. Beberapa kisah-kisah ini menjadi dasar cerita-cerita terbesar Shakespeare. Contohnya, The Golden Ass karya Apuleius, sebuah kisah kuno dari Afrika Utara, kemungkinan merupakan kisah yang menginspirasikan Impian di Tengah Musim. Shakespeare meminjam cerita untuk Romeo dan Juliet dari seorang penulis Inggris lain, yang mendapatkannya dari seorang penulis Perancis, yang menterjemahkannya dari kisah abad ke-16 oleh Luigi da Porta dari Italia yang bersumpah bahwa cerita tersebut adalah berdasarkan cerita nyata.
Sampul muka Folio Pertama, 1623. Gambar Shakespeare oleh Martin Droeshut
Di dalam dunia Shakespeare, terdapat susunan-susunan yang telah diterima secara umum. Hampir semua orang di Inggris adalah Kristen. Di hierarki terbawah terdapat kaum pekerja, di atasnya para petani dan pedangang, lalu para pendeta dan pengawal, lalu naik lagi para ksatria, tuan tanah, uskup agung, dan para adipati. Sang monarki bertahta di puncak tatanan sosial. Di Inggris, monarki tersebut adalah Ratu Elizabeth I (yang dilanjutkan dengan kemenakannya, James I).
Elizabeth I memerintah Inggris hampir selama hidup Shakespeare. Pada jaman tersebut tidak ada peperangan. Diplomasi sang ratu membuat kedua seterunya Perancis dan Spanyol terjaga seimbang. Perdagangan berkembang. London menjadi kota yang padat, ramai, dan penuh dengan peluang. Rumah-rumah sandiwara dibangun di London; teater-teater tersebut adalah tempat yang populer dikunjungi masyarakat.
Sistem kelas pada jaman Shakespeare dapat saja sudah memiliki susunan-susunan, namun hal tersebut tidak statis. Orang-orang mulai berpikir tentang mereka sendiri. Shakespeare hidup di jaman Renaissans yang berarti "kelahiran kembali" yang terjadi pada abad ke-15 hingga abad ke-17 di Eropa.
Renaissans Eropa menghidupkan kembali pembelajaran klasik. Pada jaman tersebut terdapat gerakan kebangkitan minat terhadap seni, musik, dan arsitektur. Suatu dunia yang tua dan stagnan tiba-tiba berubah menjadi hidup dan vibran. Meskipun hampir semua orang percaya bahwa susunan matahari, bulan, bintang, dan planet mempengaruhi nasib mereka, beberapa orang mulai merubah cara berpikir mereka tentang diri mereka dan dunia yang mereka tinggali. Mereka mulai memahami kekuasaan dan posisi pemerintahan diciptakan oleh manusia, bukan ditentukan oleh Tuhan sejak lahirnya. Mereka menyadari bahwa kekristenan bukanlah satu-satunya agama di dunia. Dan karena banyak di antara mereka mulai dapat membaca, maka banyak juga yang tidak ingin tinggal di kelas sosial tempat mereka dilahirkan. Banyak petualang Renaissans menggunakan cara mereka sendiri-sendiri untuk mencari rejeki dan mengembangkan kehidupan mereka. Shakespeare adalah salah satu dari orang-orang tersebut.
Pada awal 1590an, William Shakepseare mengokohkan dirinya sebagai seorang penulis sandiwara dan aktor di London. Selain itu, ia juga memiliki bagian dari rumah sandiwara tempat ia dan teman-temannya bermain. Itu mungkin adalah sumber penghasilannya. Shakespeare menikahi Anne Hathaway, yang delapan tahun lebih tua daripadanya, pada tanggal 28 November 1582 di Temple Grafton, dekat Stratford. Anne kala itu hamil tiga bulan. Bersama-sama mereka dikaruniai tiga anak: Susanna, dan si kembar Hamnet dan Judith. Istri dan ketiga anaknya tinggal di Stratford, dan kemungkinan besar Shakespeare pergi mengunjungi mereka setahun sekali. Pada tahun 1596 Hamnet meninggal dunia. Karena kemiripan nama, banyak orang berpikir bahwa hal ini mengilhaminya untuk menulis The Tragical History of Hamlet, Prince of Denmark.
Shakespeare menjadi orang teater yang sangat terkenal, sangat populer, dan sangat kaya. Ratu Elizabeth I sangat menyukai karya-karyanya; begitu pula dengan Raja James I, penerusnya. Pada pemerintahan James I, Shakespeare dan kawan-kawan terkenal dengan sebutan "Orang-orang Raja" karena Raja James I adalah pengunjung mereka yang spesial. Shakespeare dan Orang-orang Raja bermain di istana kerajaan, di teater Globe dan di rumah sandiwara mereka, dan teater Blackfriars. Untuk mendapatkan lebih banyak uang, mereka juga mengadakan tur keliling Inggris, terutama pada saat-saat wabah penyakit menjangkit Inggris.
"All the world's a stage ..."
—As You Like It
Orang-orang jaman Elizabeth tidak memandang pemain atau penulis sandiwara adalah pekerjaan yang terhormat. Pergi ke teater pada jaman tersebut tidak sama seperti pergi ke teater pada saat ini, hal itu lebih seperti pergi menonton pertandingan sepak bola!
Teater-teater jaman Elizabeth merupakan bangunan kayu yang bertingkat-tingkat. Para penonton duduk di ketiga sisi atau berdiri di tengah-tengah lantai. Bagian tengah teater terbuka atapnya karena pada jaman itu belum ada penerangan buatan. Ribuan orang berjejalan di teater untuk pertunjukan sore hari. Para penonton berteriak-teriak di belakang para aktor. Teater Globe adalah tempat yang padat pengunjung, bising, dan berjejal-jejalan.
Puluhan ribu orang yang memadati untuk melihat sandiwara Shakespeare akan dapat mendengar 1700 kata yang diciptakan oleh Shakespeare. Banyak kata-kata ciptannya yang saat ini masih digunakan. Contohnya: "deafening" (menulikan), " hush", " hurry" (lekas), " downstairs" (di bawah), " gloomy" (sedih), " lonely" (sendirian), " embrace" , " dawn" (senja). Ejaan yang digunakan Shakespeare pun berbeda dari jamannya. Orang-orang jaman Elizabeth mengeja kata-kata seperti yang tertulis, seperti Latin dan Indonesia. Tidak ada cara "yang benar" untuk mengeja. Orang-orang menulis suatu kata seperti ejaan yang mereka inginkan. Jika ingin menulis "me" (saya) tapi ingin memberikan penekanan pada kata tersebut, maka kata tersebut akan dituliskan "mee". Jika sang penulis ingin kata tersebut dibaca seperti orang berteriak dari atap rumah, makan kata tersebut akan dituliskan "Meee".
Dalam teks Shakespeare akan dijumpai kata "stayed" (tinggal) dieja "stay'd", karena Shakespeare ingin mengucapkan kata tersebut sebagai satu suku kata (baca: 'steid') seperti ejaan bahasa Inggris sekarang, bukan dua suku kata (baca: 'stei-ed'). Bahasa Inggris modern banyak menggunakan penulisan dari jaman dahulu namun dengan menggunakan ejaan yang baru. Contohnya kata "knight" (ksatria) dulunya dieja sama seperti tulisannya (baca: 'k-ni-gh-t' 4 suku kata). Di dalam budaya oral seperti jaman Shakespeare, orang-orang mempedulikan detil intonasi, nada suara, dan bunyi yang ditimbulkan pada waktu mereka berbicara sehingga bahasa lisan yang digunakan lebih kaya pada jaman dahulu daripada jaman sekarang.
"To be, or not to be, that is the question"
—Hamlet
William Shakespeare menulis selama dua puluh lima tahun, menciptakan tiga puluh enam hingga tiga puluh sembilan karya yang diketahui hingga saat ini. Topik yang dicakup beragam mulai dari romans komik hingga perang saudara, dari permainan domestik hingga kejadian politis yang menggegerkan dunia. Namun tiga hal yang mendasari seluruh karyanya adalah pertanyaan-pertanyaan: Apa artinya untuk hidup? Bagaimana cara kita hidup? Apa yang harus ktia lakukan?
Sandiwara Shakespeare menawarkan pemahaman yang mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Itulah sebabnya mengapa ahli-ahli literatur mempelajari karyanya, politikus-politikus mengutipnya, filosofer-filosofer menemukan cara berpikir yang baru dari membaca dan membaca ulang karyanya. Mempelajari Shakespeare adalah seperti mempelajari hidup dari berbagai sudut pandang: psikologis, politis, filosofis, sosial, spiritual. Ritme yang digunakannya dalam kata-katanya terefleksi dalam ritme tubuh kita. Memainkan peranan sandiwara Shakespeare di panggung membuat seseorang menyadari seberapa dalam seseorang harus menarik napas supaya suaranya dapat terdengar sampai ujung ruangan.
Shakespeare berhenti menulis pada tahun 1611 dan meninggal dunia beberapa tahun kemudian pada 1616. Sampai wafatnya ia tetap menikah dengan Anne. Pada batu nisannya tertulis: "Blest be the man who cast these stones, and cursed be he that moves my bones." (bahasa Indonesia: "Terbekatilah ia yang menaruh batu-batu ini, dan terkutuklah ia yang memindahkan tulang-tulangku.")
Tulisan
"I grow, I prosper"
—King Lear
Shakespeare menulis tentang keadaan manusia yang sangat manusiawi. Ia memahami apa yang hampir semua orang ingini: untuk menyayangi orang lain, dan disayangi oleh orang lain; makan, minum, dan tidur dengan tenang; untuk hidup di tengah dunia yang besar dan memiliki arti di dalam hidup. Shakespeare juga memahami bahwa manusia memiliki kelemahan-kelemahan yang terkadang jauh dari rencana-rencana mereka yang terhormat (atau tidak terhormat). Shakespeare adalah seorang jenius yang menunjukkan pada kita diri kita sesungguhnya.
Daftar karya
Tragedi
· Romeo and Juliet
· Macbeth
· King Lear
· Hamlet
· Othello
· Titus Andronicus
· Julius Caesar
· Antony and Cleopatra
· Coriolanus
· Troilus and Cressida
· Timon of Athens
Komedi
· The Comedy of Errors
· All's Well That Ends Well
· As You Like It
"It is not enough to speak, but to speak true"
—A Midsummer Night's Dream
· A Midsummer Night's Dream
· Much Ado About Nothing
· Measure for Measure
· The Tempest
· Taming of the Shrew
· Twelfth Night, or What You Will
· The Merchant of Venice
· The Merry Wives of Windsor
· Love's Labour's Lost
· The Two Gentlemen of Verona
· Pericles Prince of Tyre
· Cymbeline
· The Winter's Tale
Puisi
"I could have stay'd here all the night to hear good counsel. O, what learning is!"
—Romeo and Juliet
· Shakespeare's Sonnets
· Venus and Adonis
· The Rape of Lucrece
· The Passionate Pilgrim
· The Phoenix and the Turtle
· A Lover's Complaint
posted by:MEGA FIYANI (via berbagai referensi)
Kamis, 16 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar