Kamis, 16 Oktober 2008

TUGAS MINGGU INI TENTANG SHAKESPEARE

Shakespeare adalah penyair Inggris, penulis naskah drama, sekaligus aktor yang diakui sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Beberapa karya Shakespeare, seperti Romeo dan Juliet, termasuk sebagai karya sastra paling terkenal di seluruh dunia. Namun, karya-karyanya pada periode awal dianggap tidak sesuai dengan kualitas artistik drama-drama Marlowe. Ben Johnson (1572-1637), yang juga seorang penulis naskah drama kontemporer, menulis bahwa “kegemilangan Shakespeare dalam menulis karya drama bersumber dari dalam dirinya sendiri, begitu juga kemampuan untuk menguasai karya-karya tersebut”. Pada masanya, Shakespeare telah menggunakan begitu banyak kosa kata- kurang lebih 29,066- kata-kata dalam naskah dramanya. Sebagai perbandingan, pada saat ini masyarakat yang berbahasa Inggris menggunakan sekitar 2.000 kosa-kata dalam percakapan sehari-hari. “Hal yang penting dalam menikmati karya-karya Shakespeare adalah bagaimana anda dapat menerima autoritas dan karakteristik Shakespeare apa adanya” (Ludwig Wittgenstein in Culture and Value, 1980).Tak banyak catatan dalam kehidupan pribadi Shakespeare. Ada rumor yang berkembang bahwa Shakespeare tidak benar-benar menulis karya dramanya. Christopher Marlowe, Ratu Elizabeth atau Edward De Vere (1550-1604) adalah orang-orang yang diidentifikasi oleh T.J. Looney pada tahun 1920 sebagai penulis naskah drama Shakespeare. Suatu kelompok besar yang disebut ‘Oxfordian’ juga ragu-ragu dan sulit memercayai bahwa seorang pria seperti Shakespeare yang berasal dari kalangan rakyat biasa mampu menghasilkan karya tulis yang dapat membuatnya menjadi penulis besar. Menurut para numerologis, Shakespeare menulis Bible versi King James pada usia 46. Buktinya adalah : “ Shake (Guncangan) adalah kata ke 46 dari Mazmur ke-46, sedangkan Spear (Tombak) adalah kata ke-46 dihitung dari belakang, pada Mazmur ke-46.”William Shakepeare lahir di Stratford-upon-Avon, sebuah kota kecil yang terkenal dengan produksi malt-nya. Suatu wabah menular (black plague) telah membunuh 1.500 penduduk kota pada tahun 1564. Shakespeare adalah anak tertua dari Mary Arden, anak perempuan seorang tuan-tanah lokal. Sedangkan suaminya John Shakespeare (1530-1601) adalah seorang pengrajin sarung tangan sekaligus pengusaha di bidang perkayuan. John Aubrey (1626-1697) mengatakan dalam “Brief Lives” bahwa ayah Shakespeare adalah seorang tukang daging, dan ia melatih William muda untuk terjun ke dunia bisnisnya. “Tetapi jika satu saat William harus menyembelih seekor sapi, ia akan melakukannya dengan cara yang terhormat”. Pada tahun 1568 John Shakespeare terpilih sebagai walikota Stanford. Bisnis wol-nya gagal pada tahun 1570an dan pada tahun 1580 -bersama 140 orang lainnya- ia didenda sebesar ¤40 karena dianggap gagal menemukan jaminan untuk mempertahankan perdamaian. Tak ada catatan apakah denda itu akhirnya ia bayar. Beberapa saat kemudian komite gereja melaporkannya beserta delapan orang lainnya bahwa mereka lalai untuk hadir di gereja karena berada dalam ketakutan dalam proses penyelesaian hutang. Nama baik keluarga berhasil dikembalikan pada tahun 1590an oleh William Shakespeare dan pada tahun 1596 ia dianugerahi sebuah lencana kehormatan keluarga (coat of arms).Sangat sedikit orang yang mengetahui masa-masa awal hidup Shakespeare. Karya-karyanyalah yang kemudian menimbulkan berbagai interpretasi akan hal itu T.S. Elliot menulis bahwa “ Saya berkeyakinan bahwa tak ada satu pun dari karya Shakespeare yang memiliki “makna”, walaupun juga merupakan suatu kesalahan jika kita mengatakan bahwa drama-drama Shakespeare tidak bermakna” (dikutip dari Selected Essays, new edition, 1960). Shakespeare diperkirakan memperoleh pendidikan di Stratford grammar School, dan mungkin ia menghabiskan periode 1580-82 sebagai guru untuk Keluarga Katolik Roma Houghton di Lancashire. Saat Shakespeare berusia 15 tahun, seorang wanita dari desa tetangga tenggelam di Sungai Avon. Kematiannya diyakini disebabkan oleh kecelakaan, tapi mungkin pula kejadian itu merupakan suatu upaya bunuh diri. Hal ini kemudian diangkat oleh Shakespeare dalam Hamlet, dengan meninggalkan pertanyaan di akhir cerita tentang penyebab kematian Ophelia, apakah karena kecelakaan, atau karena bunuh diri. Pada usia 18 tahun, Shakespeare menikahi gadis setempat bernama Anne Hathaway (meninggal pada tahun 1623) yang berusia delapan tahun lebih tua. Anak pertamanya, Susannah, lahir dalam enam bulan, dan pada tahun 1585 si kembar Hamnet dan Judith lahir. Hamnet, satu-satunya anak lelaki Shakespeare, meninggal pada tahun 1596 pada usia 11 tahun. Banyak yang meyakini bahwa salah satu dialog King John yang diawali dengan kalimat “Duka cita memenuhi ruangan anakku yang tidak hadir di sini” merupakan cerminan dari kesedihan Shakespeare.Hamlet dicetak pertama kali pada tahun 1603. Hamlet adalah karya drama terbesar Shakespeare, berdasarkan pada drama yang hilang, r-Hamlet. Pangeran hamlet, seorang intelektual yang penuh teka-teki, sedang berkabung atas kematian ayahnya sekaligus atas ibunya yang menikah lagi. Hantu ayahnya kemudian muncul dan memberitahu bahwa Claudius yang menikahi Ratu Gertrude (ibu Hamlet) adalah orang yang meracuninya. Hamlet yang terpana akan permainana yang sedemikian kejam dan licik bersumpah akan membalas dendam. “Waktu telah keluar dari relnya! O kedengkian yang terkutuk! Aku rupanya terlahir untuk membalaskan dendam ini!” Ia pun mementaskan drama yang ceritanya berhubungan dengan tindakan Claudius. Hamlet diyakini sebagai orang yang pemarah dan gila. Ia membunuh seseorang yang mencuri dengar pembicaraannya, Polonius (Seorang anggota kerajaan), dengan menusukkan pedangnya melalui tirai. Anak lelaki Polonius, Laertes, kembali ke Denmark untuk membalas dendam atas kematian ayahnya. Anak perempuan Polonius, Ophelia, mencintai Hamlet. Tetapi kesadisan dan tabiat brutal Hamlet membawanya pada kegilaan. “Pergilah kau ke biara dan bertanyalah : mengapa kau merupakan keturunan dari para pendosa?” Hamlet berkata pada Ophelia, yang kemudian meninggal karena tenggelam. Sebelum pembantaian yang mengakhiri cerita, Hamlet berkata pada teman baiknya, Horatio: “Aku harus memenangkan pertaruhan ini. Tapi mungkin kau tak pernah berpikir betapa sakitnya hatiku ini.” Dan pertempuran itu pun berakhir dengan kematian Gertrude, Laertes, Claudius, dan Hamlet, yang kata-kata terakhirnya adalah “yang tersisa hanyalah kesunyian”
Resensi lain tentang William Shakespeare (1564-1616) -BiographyDaftar Pustaka
William Shakespeare (1564-1616) -Biography oleh Viram Pandey “What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet.” Itulah kalimat yang sangat populer dari drama romantis-tragedi mahakarya William Shakespeare, “Romeo and Juliet”. Shakespeare ingin ngomong, bunga mawar itu kalaupun diberi nama selain “mawar”, bau wanginya akan tetap sama.


Good night, good night!
Parting is such sweet sorrow
That I shall say good night till it be morrow
(Adegan dalam naskah Romeo and Juliet karya William Shakespeare)

PERJALANAN PENGANTEN
Penulis : Ajip Rosidiv
Penerbit : Pustaka Jaya
Tebal : 171 halaman
Terbit : Tahun 1958 dan 1998
Siapakah William Shakespeare? Benarkah dia putra John Shakespeare dan Mary Arden serta lahir di Stratford pada 26 April 1564? Benarkah dia menikah dengan Anne Hathaway, seorang gadis berusia 18 tahun, dan meninggalkannya (serta anak-anaknya) untuk menggeluti kehidupan teater di London? Siapakah the dark lady yang sering disebut-sebut dalam soneta cintanya? Apakah Shakespeare memiliki kisah cinta--selain dengan istrinya--yang terpendam dalam sejarah hingga menghasilkan drama komedi-tragis Romeo and Juliet?
Begitu banyak pertanyaan tentang kehidupan dan latar belakang sang dramawan dalam teater dunia ini, tapi begitu sedikit fakta yang tersedia. Begitu banyak karya mengagumkan yang lahir dari tangannya (18 drama komedi, 10 drama tragedi, 10 drama sejarah, dan ratusan soneta), tapi tak banyak kisah nyatanya yang tercantum dalam sejarah, sehingga sulit untuk percaya bahwa 38 karya itu lahir hanya dari satu orang yang bersahaja. Begitu sulitnya mempercayai kemungkinan itu, hingga ada beberapa buah buku--penganut "teori konspirasi"--yang mencoba membuktikan bahwa sastrawan yang bernama Shakespeare sesungguhnya tidak pernah ada dan karyanya merupakan sebuah hasil kolaborasi dari beberapa seniman Inggris! Teori konspirasi yang cukup kontroversial ini, meski konyol, ternyata dianut oleh sebagian ahli Shakespeare dengan cara mencari kemustahilan bahwa satu orang bisa melahirkan karya yang begitu kontras, antara kisah-kisah tragedi (Hamlet dan Macbeth) dan komedinya yang "ringan" (Twelfth Night).
Film Shakespeare in Love sesungguhnya hanya sebuah interpretasi dari penulis skenario Marc Norman dan Tom Stoppard berdasarkan serpihan fakta yang tercatat dan fiksi berdasarkan ramuan imajinasi yang berkembang dari misteri kehidupan.
Antara tahun 1585 dan 1592, ada kekosongan dalam dokumentasi biografi sang dramawan. Dua tahun kemudian, tiba-tiba saja nama Shakespeare tercatat sebagai seorang aktor dan penulis naskah drama di London. Saat itu, di masa Elizabethan, ada dua panggung teater Inggris yang tengah bersaing, yakni The Curtain dan The Rose. Periode inilah yang kemudian diinterpretasikan oleh Marc Norman dan Tom Stoppard saat naskah Romeo and Juliet lahir bersamaan dengan beberapa soneta cinta Shakespeare. Maka Will Shakespeare (Joseph Fiennes) di tangan sutradara John Madden menjelma menjadi seorang seniman muda yang berapi-api, temperamental, dan penuh bara cinta. Naskahnya yang tengah digarap, berjudul Romeo and Ethel, the Pirate’s Daughter, menemui kebuntuan karena ia tak memiliki siapa pun yang bisa menjadi sumber inspirasinya, apakah itu seorang wanita atau sekuntum mawar. Pertemuannya dengan Lady Viola (Gwyneth Paltrow), seorang putri bangsawan yang terobsesi untuk menjadi aktor panggung, mendadak mengubah hidupnya. Naskah Romeo and Ethel kemudian mengalir dengan deras bak air bah. Nama Ethel, atas saran Ned Alleyn, aktor Inggris terkemuka saat itu, diubah menjadi Juliet. Dramawan Christopher Marlowe bahkan menyumbangkan beberapa adegan dan jalan cerita.
Film yang meraih 13 nominasi Academy Award ini--bersaing dengan Saving Private Ryan karya Steven Spielberg, yang meraup 11 nominasi--berupaya menampilkan satu bait dalam kehidupan Shakespeare yang panjang (dan mungkin kehidupan yang berwarna) tapi tak berhasil menyajikan sesuatu yang istimewa dari sosok dramawan besar itu--kecuali dia masuk dalam kategori seniman stereotip: mudah jatuh cinta, mudah terbakar emosinya, dan mudah meletup-letup dalam gerak dan ekspresi. Ternyata sosok fiktif Lady Viola--diperankan dengan baik oleh Gwyneth Paltrow, yang dinominasikan sebagai aktris terbaik--yang penuh gelora dan gairah terhadap dunia teater, tampil paling bersinar.
Selain akting Paltrow, kemampuan permainan imajinasi dan ramuan sejarah para penulis skenarionya memang patut dipujikan. Beberapa adegan Romeo and Juliet yang terkenal, misalnya upaya Romeo menemui Juliet dengan memanjat kediaman Juliet serta dialog seperti "Parting is such sweet sorrow", kemudian digunakan dalam adegan percintaan antara Will dan Lady Viola. Ini, tentu saja, untuk mengesankan bahwa percintaan terlarang antara sang dramawan dan Lady Viola--yang sudah bertunangan dengan Lord Wessex--telah memberi inspirasi drama cinta Romeo and Juliet.
Sosok Ratu Elizabeth yang dingin, tegas, dan penuh otoritas tapi toh bisa sesekali jenaka itu juga muncul sebagai bintang berkelas. Dame Judy Dench memang seorang aktris panggung Shakespearean yang tak tertandingi ketika memerankan tokoh sekompleks Ratu Elizabeth yang memiliki gairah terhadap dunia teater itu.
Pada akhirnya, Shakespeare in Love bukan hanya persembahan kepada pembaca karya Shakespeare atau penikmat teater belaka. Film ini juga persembahan untuk mereka yang mendalami makna cinta.
Leila S. Chudori

Jatidiri Shakespeare Sebagai Penulis Mulai Diragukan Seniman Inggris
Arwah William Shakespeare di alam penantian saat ini mungkin tengah gundah gelisah. Bagaimana tidak. Di saat dirinya tak bisa melakukan pembelaan diri, ternyata sekitar 300 seniman Inggris mulai meragukan jati dirinya sebagai sastrawan dunia.
Kelompok seniman yang terdiri dari 300 orang itu, di antaranya aktor teater kawakan Inggris Sir Derek Jacobi dan Mark Rylance. Aktivitas kelompok ini adalah melakukan debat publik meluncurkan tentang siapa yang sebenarnya menulis karya-karya sastra, yang populer ditulis oleh William Shakespeare.
Kelompok diskusi itu selanjutnya menerbitkan "deklarasi keraguan yang beralasan", yang mereka harap akan mendorong penelitian lebih lanjut tentang isu ini. Demikian laporan BBC beberapa hari lalu.
"Saya percaya dengan teori yang mengatakan karya-karya itu adalah kolaborasi sekelompok orang. Saya tidak yakin satu orang saja mampu melakukannya," kata Sir Derek Jacobi.
Mereka mengatakan tidak ada catatan bahwa Shakespeare menerima bayaran atas karya-karyanya.
Sementara dokumen-dokumen yang ada tentang Shakespeare, yang dilahirkan di kota Stratford-upon-Avon pada tahun 1564, tidak membuktikan bahwa dia seorang penulis.
Khususnya surat wasiat yang dia tulis, yang meninggalkan istrinya "tempat tidur nomor dua terbaik saya dengan perabotan", dan tidak berisi kalimat-kalimat indah yang membuat dia terkenal dan tidak juga menyebut buku, naskah drama atau puisi karyanya.
Kontroversi Kehidupan-Tulisan
Shakespeare Authorship Coalition yang beranggotakan 287 orang mengatakan drama-drama Shakespeare yang banyak menampilkan rincian tentang hukum tidak mungkin ditulis oleh William Shakespeare, pria kelas bawah, yang berasal dari keluarga buta huruf.
Kelompok ini mempertanyakan apakah satu orang saja mampu menulis karya Shakespeare. Kelompok ini bertanya mengapa sebagian besar karya drama Shakespeare berlatar keluar kelas atas atau bangsawan, dan mengapa kota Stratford-upon-Avon tidak pernah disebut di dalam karya-karya tersebut.
"Bagaimana dia bisa mengetahui kehidupan bangsawan Italia, dan menggambarkan rinciannya dengan akurat?" tambah kelompok itu.
Teori konspirasi tentang penulis karya Shakespeare yang sebenarnya sudah beredar sejak abad ke-18. Berdasarka teori-teori itu, beberapa orang, termasuk penulis drama Christopher Marlowe, bangsawan Edward de Vere dan Francis Bacon dikatakan menggunakan Shakespeare sebagai nama samaran.
"Menurut saya perkiraan terkuat kemungkinan adalah Edward de Vere, karena si penulis menulis tentang pengalamannya, kehidupannya dan sifatnya," kata Sir Derek.
Deklarasi itu, yang diresmikan di Teater Minerva di Chichester, Inggris selatan, juga memuat nama 20 tokoh penting yang pernah meragukan karya Shakespeare, termasuk Mark Twain, Orson Welles, Sir John Gielgud dan Charlie Chaplin.
Salinan deklarasi ini diserahkan kepada Dr William Leahy, dekan Sastra Inggris di Universita Brunel di London dan penyusun jurusan S2 pertama tentang studi tenang siapa penulis karya Shakespeare, yang akan diluncurkan akhir bulan ini.
"Sejak dua tahun ini saja berjuang untuk memasukkan topik ini ke dalam pembahasan akademisi," kata Dr Leahy.
"Ini adalah pertanyaan sah, karena ada misteri dan pembahasan intelektual akan mendekatkan kita ke inti masalah ini."
"Saya tidak mengatakan kami akan mendapatkan semua jawabannya. Bukan itu intinya. Tentu saja, di situ letak pertanyaannya."
Sumber: BBC

William Shakespeare
www.duniasastra.com
Dilahirkan disebuah kota kecil Stratford-upon Avon, Inggris. Ayahnya, John Shakespeare adalah seorang pengusaha kayu dan sarung tangan, sementara ibunya, Mary Arden adalah putri seorang tuan tanah. Tak ada sumber yang pasti yang menyebutkan tanggal lahirnya, selain rujukan bahwa ia dibaptis di Holy Trinity Church pada 26 April 1564. Dan umumnya diketahui bahwa pembatisan dilakukan setelah tiga atau empat hari bayi dilahirkan. Jadi mungkin saja Shakespeare lahir pada 23 april 1564.
Tidak ada dokumen yang merekam secara detil kehidupan masa kecilnya selain diketahui bahwa ia pernah belajar di Stratford Grammar School dan tidak sempat melanjutkan ke Oxford atau Cambridge, dua sekolah prestisius yang berwibawa di Inggris.
Pada tahun 1580 ia menjadi seorang guru bagi keluarga Roman Catholic Houghton di Lanchasire. Dua tahun kemudian ia menikah dengan Anne Hathaway dan dikarunia tiga orang putri.
Kematian salah satu putrinya diusia 11 tahun mempengaruhi karyanya yang penuh duka dan lara.
Karirnya dimulai sejak ia memutuskan untuk hijrah ke London pada tahun 1582 dan bergabung dalam kelompok teater London.Dua tahun kemudian ia muncul sebagai seorang actor yang disegani dan segera melejit menjadi selebritas di London. Ia disebut sebagai Kings Men.
Betapa nasib telah mengubah semuanya. Iapun dikenal public sebagai seorang penyair, dramawan, actor dan penulis yang tangguh.
Dibalik keberhasilannya sebagai penulis, tersebar isu bahwa ia melakukan plagiat atas karya-karya Edward de Vere, Francis Bacon, Christopher Marlowe, Ratu Elizabeth. Bahkan novelis perancis Voltaire menyebut Shakespeare sebagai pemabuk yang tak jelas juntrungannya ( a drunken savage) . TS Elliot, penyair dan esais asal Amerika, walau terdengar agak sopan menulis :”Kesan saya, tak satupun karya Shakespeare memiliki makna, walaupun tidak bisa disamakan dengan karya yang buruk rupa”.
Bebagai tuduhan itu disebarluaskan oleh kubu oxford yang meragukan kemampuannya dalam menulis, terlebih lagi ia berasal dari daerah terpencil sehingga tidaklah mungkin mempunyai pengetahun yang memadai untuk menjadi penulis hebat. Tentu saja kubu Stanford membelanya, menurut kubu ini Shakespeare adalah seorang jenius yang pernah dilahirkan kota mereka.
Kalau memang benar ia menjiplak karya Edward De Vere , mengapa karyanya seperti Machbet,King Lear tercipta setelah kematian Edward ditahun 1604.Begitu menurut alibi mereka.
Terlepas dari berbagi kontroversi yang menerpa karya-karyanya. William Shakespeare meninggalkan karya-karya yang terkenal luas yaitu, Hamlet, Romeo and Juliet, King Lear, Julius Cesar, Othello, Anthony and Cleopatra. Shakespeare meninggal pada 13 April 1616 meninggalkan karya yang abadi.

William Shakespeare (26 April 1564 - 23 April 1616, di Stratford-upon-Avon, Inggris) adalah seorang penulis Inggris yang seringkali disebut orang sebagai salah satu sastrawan terbesar Inggris. Ia menulis sekitar 38 sandiwara tragedi, komedi, sejarah, dan 154 sonata, 2 puisi naratif, dan puisi-puisi yang lain. Ia menulis antara tahun 1585 dan 1613 dan karyanya telah diterjemahkan di hampir semua bahasa hidup di dunia dan dipentaskan di panggung lebih daripada semua penulis sandiwara yang lain.
Kehidupan
Shakespeare lahir di Stratford-upon-Avon, Inggris, pada bulan April 1564, sebagai putra John Shakespeare dan Mary Arden. Ayah William cukup kaya ketika ia lahir dan memiliki bisnis pembuatan sarung tangan namun kemudian ia menjadi agak miskin setelah menjual wol secara ilegal. Shakespeare tidak mengikuti jejak ayahnya.
Pada jaman itu, sekolah umum baru dimulai di Inggris. Sebelumnya, hampir semua anak tidak tahu cara membaca dan menulis, mereka hanya belajar suatu ketrampilan atau bertani. Shakespeare pergi ke salah satu sekolah umum yang baru ini. Ia belajar Latin, yang merupakan bahasa semua kaum terpelajar, tidak peduli dari negara mana mereka berasal. Dari London ke Lisbon, dari Aleksandria ke Konstantinopel, dari Tunis ke Yerusalem, semua orang terpelajar berbicara Latin dan bahasa ibu mereka. Semua dokumen penting, baik dokumen negara, gereja, atau perdagangan, ditulis menggunakan Latin.
Shakespeare juga mempelajari karya-karya para penulis dan filosofer dari Yunani Kuno dan Romawi. Lebih dari 100 tahun berlalu sejak Yohanes Gutenberg memperkenalkan percetakan ke Eropa pada tahun 1452. Shakespeare dan orang Inggris lain yang dapat membaca ─ dan mampu membeli ─ buku-buku menjadi akrab dengan kisah-kisah dari berbagai tempat seperti Italia, Perancis, Asia Minor, dan Afrika Utara. Beberapa kisah-kisah ini menjadi dasar cerita-cerita terbesar Shakespeare. Contohnya, The Golden Ass karya Apuleius, sebuah kisah kuno dari Afrika Utara, kemungkinan merupakan kisah yang menginspirasikan Impian di Tengah Musim. Shakespeare meminjam cerita untuk Romeo dan Juliet dari seorang penulis Inggris lain, yang mendapatkannya dari seorang penulis Perancis, yang menterjemahkannya dari kisah abad ke-16 oleh Luigi da Porta dari Italia yang bersumpah bahwa cerita tersebut adalah berdasarkan cerita nyata.

Sampul muka Folio Pertama, 1623. Gambar Shakespeare oleh Martin Droeshut
Di dalam dunia Shakespeare, terdapat susunan-susunan yang telah diterima secara umum. Hampir semua orang di Inggris adalah Kristen. Di hierarki terbawah terdapat kaum pekerja, di atasnya para petani dan pedangang, lalu para pendeta dan pengawal, lalu naik lagi para ksatria, tuan tanah, uskup agung, dan para adipati. Sang monarki bertahta di puncak tatanan sosial. Di Inggris, monarki tersebut adalah Ratu Elizabeth I (yang dilanjutkan dengan kemenakannya, James I).
Elizabeth I memerintah Inggris hampir selama hidup Shakespeare. Pada jaman tersebut tidak ada peperangan. Diplomasi sang ratu membuat kedua seterunya Perancis dan Spanyol terjaga seimbang. Perdagangan berkembang. London menjadi kota yang padat, ramai, dan penuh dengan peluang. Rumah-rumah sandiwara dibangun di London; teater-teater tersebut adalah tempat yang populer dikunjungi masyarakat.
Sistem kelas pada jaman Shakespeare dapat saja sudah memiliki susunan-susunan, namun hal tersebut tidak statis. Orang-orang mulai berpikir tentang mereka sendiri. Shakespeare hidup di jaman Renaissans yang berarti "kelahiran kembali" yang terjadi pada abad ke-15 hingga abad ke-17 di Eropa.
Renaissans Eropa menghidupkan kembali pembelajaran klasik. Pada jaman tersebut terdapat gerakan kebangkitan minat terhadap seni, musik, dan arsitektur. Suatu dunia yang tua dan stagnan tiba-tiba berubah menjadi hidup dan vibran. Meskipun hampir semua orang percaya bahwa susunan matahari, bulan, bintang, dan planet mempengaruhi nasib mereka, beberapa orang mulai merubah cara berpikir mereka tentang diri mereka dan dunia yang mereka tinggali. Mereka mulai memahami kekuasaan dan posisi pemerintahan diciptakan oleh manusia, bukan ditentukan oleh Tuhan sejak lahirnya. Mereka menyadari bahwa kekristenan bukanlah satu-satunya agama di dunia. Dan karena banyak di antara mereka mulai dapat membaca, maka banyak juga yang tidak ingin tinggal di kelas sosial tempat mereka dilahirkan. Banyak petualang Renaissans menggunakan cara mereka sendiri-sendiri untuk mencari rejeki dan mengembangkan kehidupan mereka. Shakespeare adalah salah satu dari orang-orang tersebut.
Pada awal 1590an, William Shakepseare mengokohkan dirinya sebagai seorang penulis sandiwara dan aktor di London. Selain itu, ia juga memiliki bagian dari rumah sandiwara tempat ia dan teman-temannya bermain. Itu mungkin adalah sumber penghasilannya. Shakespeare menikahi Anne Hathaway, yang delapan tahun lebih tua daripadanya, pada tanggal 28 November 1582 di Temple Grafton, dekat Stratford. Anne kala itu hamil tiga bulan. Bersama-sama mereka dikaruniai tiga anak: Susanna, dan si kembar Hamnet dan Judith. Istri dan ketiga anaknya tinggal di Stratford, dan kemungkinan besar Shakespeare pergi mengunjungi mereka setahun sekali. Pada tahun 1596 Hamnet meninggal dunia. Karena kemiripan nama, banyak orang berpikir bahwa hal ini mengilhaminya untuk menulis The Tragical History of Hamlet, Prince of Denmark.
Shakespeare menjadi orang teater yang sangat terkenal, sangat populer, dan sangat kaya. Ratu Elizabeth I sangat menyukai karya-karyanya; begitu pula dengan Raja James I, penerusnya. Pada pemerintahan James I, Shakespeare dan kawan-kawan terkenal dengan sebutan "Orang-orang Raja" karena Raja James I adalah pengunjung mereka yang spesial. Shakespeare dan Orang-orang Raja bermain di istana kerajaan, di teater Globe dan di rumah sandiwara mereka, dan teater Blackfriars. Untuk mendapatkan lebih banyak uang, mereka juga mengadakan tur keliling Inggris, terutama pada saat-saat wabah penyakit menjangkit Inggris.

"All the world's a stage ..."
—As You Like It
Orang-orang jaman Elizabeth tidak memandang pemain atau penulis sandiwara adalah pekerjaan yang terhormat. Pergi ke teater pada jaman tersebut tidak sama seperti pergi ke teater pada saat ini, hal itu lebih seperti pergi menonton pertandingan sepak bola!
Teater-teater jaman Elizabeth merupakan bangunan kayu yang bertingkat-tingkat. Para penonton duduk di ketiga sisi atau berdiri di tengah-tengah lantai. Bagian tengah teater terbuka atapnya karena pada jaman itu belum ada penerangan buatan. Ribuan orang berjejalan di teater untuk pertunjukan sore hari. Para penonton berteriak-teriak di belakang para aktor. Teater Globe adalah tempat yang padat pengunjung, bising, dan berjejal-jejalan.
Puluhan ribu orang yang memadati untuk melihat sandiwara Shakespeare akan dapat mendengar 1700 kata yang diciptakan oleh Shakespeare. Banyak kata-kata ciptannya yang saat ini masih digunakan. Contohnya: "deafening" (menulikan), " hush", " hurry" (lekas), " downstairs" (di bawah), " gloomy" (sedih), " lonely" (sendirian), " embrace" , " dawn" (senja). Ejaan yang digunakan Shakespeare pun berbeda dari jamannya. Orang-orang jaman Elizabeth mengeja kata-kata seperti yang tertulis, seperti Latin dan Indonesia. Tidak ada cara "yang benar" untuk mengeja. Orang-orang menulis suatu kata seperti ejaan yang mereka inginkan. Jika ingin menulis "me" (saya) tapi ingin memberikan penekanan pada kata tersebut, maka kata tersebut akan dituliskan "mee". Jika sang penulis ingin kata tersebut dibaca seperti orang berteriak dari atap rumah, makan kata tersebut akan dituliskan "Meee".
Dalam teks Shakespeare akan dijumpai kata "stayed" (tinggal) dieja "stay'd", karena Shakespeare ingin mengucapkan kata tersebut sebagai satu suku kata (baca: 'steid') seperti ejaan bahasa Inggris sekarang, bukan dua suku kata (baca: 'stei-ed'). Bahasa Inggris modern banyak menggunakan penulisan dari jaman dahulu namun dengan menggunakan ejaan yang baru. Contohnya kata "knight" (ksatria) dulunya dieja sama seperti tulisannya (baca: 'k-ni-gh-t' 4 suku kata). Di dalam budaya oral seperti jaman Shakespeare, orang-orang mempedulikan detil intonasi, nada suara, dan bunyi yang ditimbulkan pada waktu mereka berbicara sehingga bahasa lisan yang digunakan lebih kaya pada jaman dahulu daripada jaman sekarang.

"To be, or not to be, that is the question"
—Hamlet
William Shakespeare menulis selama dua puluh lima tahun, menciptakan tiga puluh enam hingga tiga puluh sembilan karya yang diketahui hingga saat ini. Topik yang dicakup beragam mulai dari romans komik hingga perang saudara, dari permainan domestik hingga kejadian politis yang menggegerkan dunia. Namun tiga hal yang mendasari seluruh karyanya adalah pertanyaan-pertanyaan: Apa artinya untuk hidup? Bagaimana cara kita hidup? Apa yang harus ktia lakukan?
Sandiwara Shakespeare menawarkan pemahaman yang mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Itulah sebabnya mengapa ahli-ahli literatur mempelajari karyanya, politikus-politikus mengutipnya, filosofer-filosofer menemukan cara berpikir yang baru dari membaca dan membaca ulang karyanya. Mempelajari Shakespeare adalah seperti mempelajari hidup dari berbagai sudut pandang: psikologis, politis, filosofis, sosial, spiritual. Ritme yang digunakannya dalam kata-katanya terefleksi dalam ritme tubuh kita. Memainkan peranan sandiwara Shakespeare di panggung membuat seseorang menyadari seberapa dalam seseorang harus menarik napas supaya suaranya dapat terdengar sampai ujung ruangan.
Shakespeare berhenti menulis pada tahun 1611 dan meninggal dunia beberapa tahun kemudian pada 1616. Sampai wafatnya ia tetap menikah dengan Anne. Pada batu nisannya tertulis: "Blest be the man who cast these stones, and cursed be he that moves my bones." (bahasa Indonesia: "Terbekatilah ia yang menaruh batu-batu ini, dan terkutuklah ia yang memindahkan tulang-tulangku.")
Tulisan

"I grow, I prosper"
—King Lear
Shakespeare menulis tentang keadaan manusia yang sangat manusiawi. Ia memahami apa yang hampir semua orang ingini: untuk menyayangi orang lain, dan disayangi oleh orang lain; makan, minum, dan tidur dengan tenang; untuk hidup di tengah dunia yang besar dan memiliki arti di dalam hidup. Shakespeare juga memahami bahwa manusia memiliki kelemahan-kelemahan yang terkadang jauh dari rencana-rencana mereka yang terhormat (atau tidak terhormat). Shakespeare adalah seorang jenius yang menunjukkan pada kita diri kita sesungguhnya.
Daftar karya
Tragedi
· Romeo and Juliet
· Macbeth
· King Lear
· Hamlet
· Othello
· Titus Andronicus
· Julius Caesar
· Antony and Cleopatra
· Coriolanus
· Troilus and Cressida
· Timon of Athens
Komedi
· The Comedy of Errors
· All's Well That Ends Well
· As You Like It

"It is not enough to speak, but to speak true"
—A Midsummer Night's Dream
· A Midsummer Night's Dream
· Much Ado About Nothing
· Measure for Measure
· The Tempest
· Taming of the Shrew
· Twelfth Night, or What You Will
· The Merchant of Venice
· The Merry Wives of Windsor
· Love's Labour's Lost
· The Two Gentlemen of Verona
· Pericles Prince of Tyre
· Cymbeline
· The Winter's Tale
Puisi

"I could have stay'd here all the night to hear good counsel. O, what learning is!"
—Romeo and Juliet
· Shakespeare's Sonnets
· Venus and Adonis
· The Rape of Lucrece
· The Passionate Pilgrim
· The Phoenix and the Turtle
· A Lover's Complaint


posted by:MEGA FIYANI (via berbagai referensi)

Jumat, 10 Oktober 2008

YANG MAU CARI TUGAS RABU DEPAN TENTANG NIKOLAI GOGOL, EKSISTENSIALISME, NIHILSM, AND ABSURD

Nikolai Vasilevich Gogol (1 April 1809 - 4 Maret 1852) adalah seorang sastrawan Rusia kelahiran Ukraina. Meskipun banyak dari karyanya dipengaruhi oleh latar belakang dan pendidikannya di masa kecil di Ukraina, ia menulis dalam bahasa Rusia dan karya-karyanya tergolong dalam sastra Rusia. Barangkali karyanya yang paling terkenal adalah Jiwa-jiwa Mati, yang dipandang oleh banyak orang sebagai novel modern Rusia yang pertama.
Kehidupan dan kematian
Gogol dilahirkan di Sorochintsi di daerah Poltava Guberniya (kini Ukraina) dari sebuah keluarga bangsawan kecil (dvoryanstvo) Ukraina (atau lebih tepatnya Ruthenia). Nama kecilnya dalam bahasa Ukraina dieja Mykola. Sebagian dari nenek moyangnya mengaku keturunan Szlachta Polandia (mungkin bukan secara etnis melainkan secara kultural, karena polonisasi yang terus-menerus terhadap kelas atas Ruthenia) dan kakeknya, Afanasiy Gogol menulis dalam dokumen-dokumen sensus bahwa "leluhurnya, yang bernama keluarga Gogol, berkebangsaan Polandia". Namun demikian, kakek buyutnya, Jan Gogol, setelah belajar di Akademi Kyiv-Mohyla, sebuah lembaga pendidikan yang sangat Ukraina, atau Ruthenia, dan Kristen Ortodoks pindah ke Tepi kiri Ukraina yang cenderung ke Moskwa (Malorossia) dan menetap di daerah Poltava, dan memulai garis keluarga Gogol-Janovsky. Gogol sendiri tidak menggunakan bagian kedua dari namanya, karena menganggapnya sebagai sebuah "tambahan Polandia yang artifisial". Ayah Gogol meninggal ketika anaknya baru berusia 15 tahun. Kesalehan ibunya mungkin telah mempengaruhi pandangan dunia Gogol, demikian pula masa yang dilewatinya di daerah campuran yang terdiri dari kaum bangsawan kecil dan kehidupan desa sehari-hari.
Nikolai pindah ke Saint Petersburg pada 1828. Pada 1831, ia berjumpa dengan Aleksandr Pushkin, yang mendukungnya sebagai penulis dan menjadi sahabatnya. Belakangan ia mengajar sejarah di Universitas St. Petersburg dari 1834 hingga 1835. Ia mulai menulis sejumlah cerita pendek dengan lokasi di St. Petersburg, termasuk "Nevsky Prospekt", Buku Harian Seorang Gila, "Mantel", dan "Hidung" (yang belakangan dijadikan opera oleh Dmitri Shostakovich). Meskipun jilid pertama dari bukunya Malam-malam di Pertanian Dekat Dikanka menjadi sukses pertamanya yang sejati, ia kembali lenyap dari peredaran setelah penerbitan bukunya Arabesques. Baru setelah terbit dramanya yang penuh ejekan Inspektur Keneral, yang dihasilkan pada 1836, masyarakat kembali menaruh perhatian kepadanya sebagai seorang penulis. Cerita yang bernada satir ini, seperti banyak dari karyanya yang lain di kemudian hari, menimbulkan sejumlah kontroversi, dan Gogol terpaksa melarikan diri ke Roma.
Jiwa-jiwa Mati dan Kematian
Memorial of Nikolai Gogol
Gogol tinggal hampir selama lima tahun di luar negeri di Jerman dan Italia. Pada masa inilah ia menulis Jiwa-jiwa Mati, dengan bagian pertamanya terbit pada 1842. (Gogol meminta Pushkin untuk ide-ide mengenai cerita-cerita penting Rusia; sebagai jawaban, Pushkin menyarankan gagasan dasar untuk Jiwa-jiwa mati.) Gogol memutuskan bahwa sebelum ia bisa melanjutkan penulisan novl ini dan menghasilkan "regenerasi rohani dari seorang bajingan seperti Chichikov" (tokoh utama Jiwa-jiwa Mati), ia sendiri harus mengalami regenerasi spiritual. Ia memaksa dirinya untuk berdoa dan berpuasa, dan seperti yang dapat diduga, hal ini malah menghalangi dan bukannya menolong penulisan novelnya. Ia menyatakan, "pokok dari Jiwa-jiwa Mati tidak ada hubungannya dengan penggambaran mengenai kehidupan pedesaan di Rusia ataupun segelintir tuan tanah yang memberontak. Untuk sementara waktu ini adalah suatu rahasia yang harus dengan mendadak dan menakjubkan setiap orang (karena hingga sekarang tak seorangpun pembacaku yang telah menerkanya) akan diungkapkan dalam jilid-jilid berikutnya..." Namun ketidakmampuannya untuk mengungkapkan rahasia ini menyebabkan ia hampir mengalami gangguan saraf pada awal Januari 1845, dan pada akhir Juni ia membakar semua naskah jilid kedua dari Jiwa-jiwa Mati yang telah ditulisnya. Selama tujuh tahun berikutnya kelanjutan pekerjaannya dalam novel itu sangat melelahkan dan menyiksa dirinya. Pada 1848, Gogol, yang menjadi semakin dipengaruhi oleh Kekristenan Ortodoks melakukan ziarah ke Yerusalem. Sekembalinya, ia dipengaruhi oleh seorang pendeta, Pendeta Matthew Konstantinovskii, yang menganggap karya sastranya sebagai kekejian di mata Tuhan. Konstantinovskii rupanya menuntut agar Gogol menghancurkan jilid kedua dari Jiwa-jiwa Mati dan "menebus dosanya karena telah menulis jilid pertama novel itu dengan masuk ke sebuah biara". Setelah mengalami konflik batin yang sangat hebat, Gogol memutuskan untuk memenuhi keinginan Pendeta Konstantinovskii dan membakar bagian kedua novelnya yang sudah selesai pada malam 24 Februari 1852. Tak lama kemudian pergi ke tempat tidurnya, menolak untuk makan, dan meninggal dengan penderitaan yang sanagt hebat sembilan hari kemudian, pada 5 Maret, 1852. Sebagian potongan-potongan karyanya selamat dan telah diterbitkan.
Kata-katanya yang terakhir adalah suatu ucapan kuno, "Dan aku akan tertawa dengan tawa yang pahit." Kata-kata ini dituliskan di batu nisannya.
Ia dikuburkan di Pekuburan Donskoy, dekat dengan rekannya sesama Slavofil Aleksey Khomyakov. Pada 1931, ketika pemerintah Moskwa memutuskan untuk menghancurkan biara itu, sisa-sisa tulangnya dipindahkan ke Pemakaman Novodevichy. Tubuhnya ditemukan terbaring dengan wajahnya menghadap ke bawah. Hal ini menimbulkan cerita bahwa Gogol telah dikuburkan hidup-hidup. Salah seorang kritikus Soviet bahkan memotong sebagian dari jaket Gogol untuk dijadikan sampul buku Jiwa-jiwa Matinya. Sebuah batu yang pernah berdiri di atas kuburnya di Donskoy digunakan kembali untuk kuburan seorang pengagum Gogol, Mikhail Bulgakov.
Penafsiran
Kehidupan sastra dan karya Gogol memperlihatkan pertemuan pergulatan antara dorongan-dorongan Barat dan Slavofil dalam budaya Rusia.
Karya-karyanya
"Nyanyian untuk Italia" (1829, puisi)
Hanz Küchelgarten (1829, puisi naratif, diterbitkan dengan nama samaran "V. Alov")
"Perempuan" (1830, cerpen)
Malam Hari di Pertanian Dekat Dikanka (1831-1832, kumpulan cerpen)
"Pasar Malam di Sorochintsï" (dasar untuk opera dengan judul yang sama) karya Mussorgsky
"Malam St. Yohanes" (dasar untuk karya orkestra Mussorgsky yang terkenal dengan judul Night on Bald Mountain)
"Malam bulan Mei" (dasar untuk opera dengan judul yang sama oleh Rimsky-Korsakov dan opera Mykola Lysenko, The Drowned Maiden [Utoplena])
"Surat yang Hilang: Cerita yang disampaikan oleh Pendeta dari Gereja N..."
"Malam Natal" (dasar untuk beberapa opera, termasuk Cherevichki oleh Tchaikovsky (versi revisi dari Vakula the Smith), opera dengan judul yang sama dari Rimsky-Korsakov, dan oleh Mykola Lysenko dengan judul yang sama (dalam bahasa Ukraina) Rivnaja nič)
"Pembalasan yang Mengerikan"
"Ivan Fedorovic Sponka dan Bibinya"
"A Bewitched Place"
Mirgorod (1835, kumpulan cerpen)
"Tuan Tanah dari Dunia Lama"
Taras Bulba (dasar untuk opera dengan judul yang sama oleh Mykola Lysenko)
"Viy"
"Bagaimana Dua Ivan Bertengkar"
Arabesques (1835, kumpulan cerpen)
"Potret (cerpen)"
"Sebuah Bab dari sebuah Novel Sejarah" (fragmen)
"Nevsky Prospect"
"Tahanan" (fragmen)
Buku Harian Seorang Gila (novel)
"Hidung" (1836, cerpen, dasar untuk opera oleh Dmitri Shostakovich)
"Kereta Kuda" (1836, cerpen)
Inspektur Jenderal (1836, drama) (difilmkan di Indonesia dengan judul "Tamu Agung" oleh Usmar Ismail pada 1955)
"Pulang dari Teater" (1842, esai)
"Roma" (1842, fragmen)
"Mantel" (1842, cerpen)
Perkawinan (1842, drama, babak pertama diadaptasi oleh Mussorgsky sebagai opera dengan nama yang sama, diselesaikan oleh Mikhail Ippolitov-Ivanov)
Jiwa-jiwa Mati (1842, novel)
Bagian-bagian Terpilih dari Korespondensi dengan Teman-temannya (1847, kumpulan surat dan esai)
"Meditasi atas Liturgi Suci"

Eksistensialisme adalah gerakan filsafat yang mengusung ide bahwa manusia menciptakan makna dan hakekat hidup mereka sendiri. Karenanya, filsafat harus mengacu pada manusia yang konkrit, yaitu manusia sebagai eksistensi. Beberapa tokoh penting gerakan eksistensialisme, dengan perbedaan-perbedaan pandangannya, antara lain: Kierkegaard, Nietzsche, Berdyaev, Jaspers, Heidegger, Sartre, dan Camus (meskipun Camus sendiri tidak mau disebut sebagai seorang eksistensialis). Eksistensialisme“. Aliran filsafat, kata Pangeran Kegelapan, yang renyah seperti kerupuk udang. Lha kok bisa renyah seperti kerupuk udang (kenapa tidak seperti emping atau kerupuk yang lainnya ya?!)? Padahal bahasan eksistensialisme menurut saya lebih banyak buramnya dibandingkan terangnya. Bagaimana tidak? Gagasan pokok dari lahirnya aliran filsafat eksistensialisme adalah hidup sebagai sebuah keterlemparan begitu saja, tanpa makna dan tujuan. Hidup yang sia-sia dan tak bermakna. Hidup sebagai upaya meraih sesuatu yang tak akan pernah tercapai. Pangkal tolak pengamatan aliran filsafat ini adalah manusia individual dan subjektif. Karena dalam perspektif eksistensialis, kenyataan itu adanya tergantung pada individu yang konkret dan unik dalam ruang dan waktu. „Ketidakbahagiaan mendasar”lah yang mampu mengantarkan manusia kepada penghayatan dirinya sebagai manusia secara utuh.
Yang dilihat pun adalah hal-hal yang berkaitan dengan „impact“ bahwa pengalaman mampu menciptakan suatu eksistensi partikular dalam konteks penghayatan manusia atas hidup, sehingga makna hidup itu menjadi amat spesifik dan unik. Terminologi kunci dalam filsafat ini adalah individual-self sebagai diri yang sadar, aku yang berpikir, yang serentak melibatkan kepercayaan, harapan-harapan, ketakutan, keinginan, kebutuhan untuk menemukan sebuah tujuan, serta kehendak yang bisa menentukan tindakan-tindakannya. Individu dalam konteks ini adalah individu yang setiap saat harus membuat keputusan dan menjatuhkan pilihan-pilihan serta bertanggung jawab atasnya.
Bermula dari reaksi terhadap esensialisme Hegel, filsafat eksistensialisme berkembang dengan para tokohnya seperti Heidegger, Sartre, Camus, Kierkegaard, Karl Jaspers, Gabriel Marcel, dll. Belum lagi menyebut nama-nama lain seperti Nietzsche dan Freud. Duh, semakin muram sepertinya. Jangan-jangan hidup itu sebenarnya memang muram, asing, penuh kecemasan dan ketakutan, terus menerus tidak merasa bahagia. Ah, masa? Tentu saja, menurut aliran ini, karena manusia dalam hidupnya senantiasa ada dalam kondisi „kecemasan“ eksistensial sebagai akibat dari beberapa kondisi manusiawi, yaitu memiliki kebebasan memilih apa yang perlu dalam hidup ini (dan ini membuat cemas –red), ketidaktahuan akan masa depan (ini juga membuat takut, -red lagi), kesadaran akan berlapisnya kemungkinan (wah, apalagi ini, -red juga), serta keterbatasan eksistensi yang didahului oleh dan akan berakhir dengan ketiadaan (waduh, -red lagi).
Namun, bukankah manusia juga diberikan kemampuan dan kebebasan untuk berkompromi dan mengharmonisasikan ketakutan serta harapan? Untuk memilih „baik“ dan „buruk“? Eh, jangan-jangan hal ini pun menakutkan dan mencemaskan juga? Tentu saja :)

NIHILSM

nihilism

7 dictionary results for: nihilism
Dictionary.com Unabridged (v 1.1) - Cite This Source - Share This
ni·hil·ism [nahy-uh-liz-uhm, nee-]
–noun
1.
total rejection of established laws and institutions.

2.
anarchy, terrorism, or other revolutionary activity.

3.
total and absolute destructiveness, esp. toward the world at large and including oneself: the power-mad nihilism that marked Hitler's last years.
4.
Philosophy.
a.
an extreme form of skepticism: the denial of all real existence or the possibility of an objective basis for truth.
b.
nothingness or nonexistence.
5.
(sometimes initial capital letter) the principles of a Russian revolutionary group, active in the latter half of the 19th century, holding that existing social and political institutions must be destroyed in order to clear the way for a new state of society and employing extreme measures, including terrorism and assassination.
6.
annihilation of the self, or the individual consciousness, esp. as an aspect of mystical experience.

—Related forms
ni·hil·ist, noun, adjective
ni·hil·is·tic, adjective
Dictionary.com Unabridged (v 1.1)
Based on the Random House Unabridged Dictionary, © Random House, Inc. 2006.
CITE THIS SOURCE|PRINT

American Heritage Dictionary - Cite This Source - Share This


1.Philosophy
a.An extreme form of skepticism that denies all existence.
b.A doctrine holding that all values are baseless and that nothing can be known or communicated.
2.Rejection of all distinctions in moral or religious value and a willingness to repudiate all previous theories of morality or religious belief.
3.The belief that destruction of existing political or social institutions is necessary for future improvement.
4.also Nihilism A diffuse, revolutionary movement of mid 19th-century Russia that scorned authority and tradition and believed in reason, materialism, and radical change in society and government through terrorism and assassination.
5.Psychiatry A delusion, experienced in some mental disorders, that the world or one's mind, body, or self does not exist.

[Latin nihil, nothing; see ne in Indo-European roots + -ism.]

ni'hil·ist n., ni'hil·is'tic adj., ni'hil·is'ti·cal·ly adv.
The American Heritage® Dictionary of the English Language, Fourth Edition
nihilism 
1817, "the doctrine of negation" (in ref. to religion or morals), from Ger. Nihilismus, from L. nihil "nothing at all" (see nil), coined by Ger. philosopher Friedrich Heinrich Jacobi (1743-1819). In philosophy, an extreme form of skepticism (1836). The political sense was first used by Ger. journalist Joseph von Görres (1776-1848). Turgenev used the Rus. form of the word (nigilizm) in "Fathers and Children" (1862) and claimed to have invented it. With a capital N-, it refers to the Rus. revolutionary anarchism of the period 1860-1917, supposedly so called because "nothing" that then existed found favor in their eyes. Nihilist first attested 1836, in the religious or philosophical sense; in the Rus. political sense, it is recorded from 1871.

Online Etymology Dictionary, © 2001 Douglas Harper

nihilism

noun
1. a revolutionary doctrine that advocates destruction of the social system for its own sake 
2. the delusion that things (or everything, including the self) do not exist; a sense that everything is unreal [syn: nihilistic delusion] 
3. complete denial of all established authority and institutions 

WordNet® 3.0, © 2006 by Princeton University.
American Heritage New Dictionary of Cultural Literacy, Third Edition - Cite This Source - Share This

nihilism [(neye-uh-liz-uhm, nee-uh-liz-uhm)]
An approach to philosophy that holds that human life is meaningless and that all religions, laws, moral codes, and political systems are thoroughly empty and false. The term is from the Latin nihil, meaning “nothing
ABSURD

Inggris:absurd Latin absurdus. Kata ini terbentuk dari ab (tidak) dan surdus (dengar) arti harfiah “tidak enak didengar”, “tuli” “tidak berperasaan” “tidak sesuai dengan akal” “tidak logis”
pengertian: bertentangan dengan rasio. Berlawanan dengan aturan0atauran logika, dengan apa yang jelas bagi akal sehat, dengan kebenaran. Dalam filsafat tafsiran pada filusuf eksistensialisme absurd menagcu kepada kehidupan yang tidak berarti, tidak konsisten, dan tidak mempunyai stuktur.

Eksistensialisme dan Absurditas.


Absurditas merupakan pandanagn ayang ditawarkan oleh eksistensialisme ateis. Absurditas dalam pengertian ini berarti sama dengan kemustahilan untuk mencari jawaban pada transenden. Camus amat mengagumi Nietzhen yang dengan lantang menyatakan “Allah sudah mati”, supya manusia setia pada buminya sendiri. Bagi Nietzhe mencari jawaban yang transenden mengenai persoalan-persoalan manusia dan dunia ini merupakan tindakan orang yang malas yang hanya mau mencari sesuatu tanpa kesungguhan.



NIKOLI GOGOL

NIKOLAI GOGOL


Nikolai Vasilevich Gogol (bahasa Rusia Никола́й Васи́льевич Го́голь) (1 April 1809 - 4 Maret 1852) adalah seorang sastrawan Rusia kelahiran Ukraina. Meskipun banyak dari karyanya dipengaruhi oleh latar belakang dan pendidikannya di masa kecil di Ukraina, ia menulis dalam bahasa Rusia dan karya-karyanya tergolong dalam sastra Rusia. Barangkali karyanya yang paling terkenal adalah Jiwa-jiwa Mati, yang dipandang oleh banyak orang sebagai novel modern Rusia yang pertama.


Kehidupan dan kematian


Gogol dilahirkan di Sorochintsi di daerah Poltava Guberniya (kini Ukraina) dari sebuah keluarga bangsawan kecil (dvoryanstvo) Ukraina (atau lebih tepatnya Ruthenia). Nama kecilnya dalam bahasa Ukraina dieja Mykola. Sebagian dari nenek moyangnya mengaku keturunan Szlachta Polandia (mungkin bukan secara etnis melainkan secara kultural, karena polonisasi yang terus-menerus terhadap kelas atas Ruthenia) dan kakeknya, Afanasiy Gogol menulis dalam dokumen-dokumen sensus bahwa "leluhurnya, yang bernama keluarga Gogol, berkebangsaan Polandia". Namun demikian, kakek buyutnya, Jan Gogol, setelah belajar di Akademi Kyiv-Mohyla, sebuah lembaga pendidikan yang sangat Ukraina, atau Ruthenia, dan Kristen Ortodoks pindah ke Tepi kiri Ukraina yang cenderung ke Moskwa (Malorossia) dan menetap di daerah Poltava, dan memulai garis keluarga Gogol-Janovsky. Gogol sendiri tidak menggunakan bagian kedua dari namanya, karena menganggapnya sebagai sebuah "tambahan Polandia yang artifisial". Ayah Gogol meninggal ketika anaknya baru berusia 15 tahun. Kesalehan ibunya mungkin telah mempengaruhi pandangan dunia Gogol, demikian pula masa yang dilewatinya di daerah campuran yang terdiri dari kaum bangsawan kecil dan kehidupan desa sehari-hari.


Nikolai pindah ke Saint Petersburg pada 1828. Pada 1831, ia berjumpa dengan Aleksandr Pushkin, yang mendukungnya sebagai penulis dan menjadi sahabatnya. Belakangan ia mengajar sejarah di Universitas St. Petersburg dari 1834 hingga 1835. Ia mulai menulis sejumlah cerita pendek dengan lokasi di St. Petersburg, termasuk "Nevsky Prospekt", Buku Harian Seorang Gila, "Mantel", dan "Hidung" (yang belakangan dijadikan opera oleh Dmitri Shostakovich). Meskipun jilid pertama dari bukunya Malam-malam di Pertanian Dekat Dikanka menjadi sukses pertamanya yang sejati, ia kembali lenyap dari peredaran setelah penerbitan bukunya Arabesques. Baru setelah terbit dramanya yang penuh ejekan Inspektur Keneral, yang dihasilkan pada 1836, masyarakat kembali menaruh perhatian kepadanya sebagai seorang penulis. Cerita yang bernada satir ini, seperti banyak dari karyanya yang lain di kemudian hari, menimbulkan sejumlah kontroversi, dan Gogol terpaksa melarikan diri ke Roma.


Jiwa-jiwa Mati dan Kematian


Gogol tinggal hampir selama lima tahun di luar negeri di Jerman dan Italia. Pada masa inilah ia menulis Jiwa-jiwa Mati, dengan bagian pertamanya terbit pada 1842. (Gogol meminta Pushkin untuk ide-ide mengenai cerita-cerita penting Rusia; sebagai jawaban, Pushkin menyarankan gagasan dasar untuk Jiwa-jiwa mati.) Gogol memutuskan bahwa sebelum ia bisa melanjutkan penulisan novl ini dan menghasilkan "regenerasi rohani dari seorang bajingan seperti Chichikov" (tokoh utama Jiwa-jiwa Mati), ia sendiri harus mengalami regenerasi spiritual. Ia memaksa dirinya untuk berdoa dan berpuasa, dan seperti yang dapat diduga, hal ini malah menghalangi dan bukannya menolong penulisan novelnya. Ia menyatakan, "pokok dari Jiwa-jiwa Mati tidak ada hubungannya dengan penggambaran mengenai kehidupan pedesaan di Rusia ataupun segelintir tuan tanah yang memberontak. Untuk sementara waktu ini adalah suatu rahasia yang harus dengan mendadak dan menakjubkan setiap orang (karena hingga sekarang tak seorangpun pembacaku yang telah menerkanya) akan diungkapkan dalam jilid-jilid berikutnya..." Namun ketidakmampuannya untuk mengungkapkan rahasia ini menyebabkan ia hampir mengalami gangguan saraf pada awal Januari 1845, dan pada akhir Juni ia membakar semua naskah jilid kedua dari Jiwa-jiwa Mati yang telah ditulisnya. Selama tujuh tahun berikutnya kelanjutan pekerjaannya dalam novel itu sangat melelahkan dan menyiksa dirinya. Pada 1848, Gogol, yang menjadi semakin dipengaruhi oleh Kekristenan Ortodoks melakukan ziarah ke Yerusalem. Sekembalinya, ia dipengaruhi oleh seorang pendeta, Pendeta Matthew Konstantinovskii, yang menganggap karya sastranya sebagai kekejian di mata Tuhan. Konstantinovskii rupanya menuntut agar Gogol menghancurkan jilid kedua dari Jiwa-jiwa Mati dan "menebus dosanya karena telah menulis jilid pertama novel itu dengan masuk ke sebuah biara". Setelah mengalami konflik batin yang sangat hebat, Gogol memutuskan untuk memenuhi keinginan Pendeta Konstantinovskii dan membakar bagian kedua novelnya yang sudah selesai pada malam 24 Februari 1852. Tak lama kemudian pergi ke tempat tidurnya, menolak untuk makan, dan meninggal dengan penderitaan yang sanagt hebat sembilan hari kemudian, pada 5 Maret, 1852. Sebagian potongan-potongan karyanya selamat dan telah diterbitkan.


Kata-katanya yang terakhir adalah suatu ucapan kuno, "Dan aku akan tertawa dengan tawa yang pahit." Kata-kata ini dituliskan di batu nisannya.


Ia dikuburkan di Pekuburan Donskoy, dekat dengan rekannya sesama Slavofil Aleksey Khomyakov. Pada 1931, ketika pemerintah Moskwa memutuskan untuk menghancurkan biara itu, sisa-sisa tulangnya dipindahkan ke Pemakaman Novodevichy. Tubuhnya ditemukan terbaring dengan wajahnya menghadap ke bawah. Hal ini menimbulkan cerita bahwa Gogol telah dikuburkan hidup-hidup. Salah seorang kritikus Soviet bahkan memotong sebagian dari jaket Gogol untuk dijadikan sampul buku Jiwa-jiwa Matinya. Sebuah batu yang pernah berdiri di atas kuburnya di Donskoy digunakan kembali untuk kuburan seorang pengagum Gogol, Mikhail Bulgakov.


Karya-karyanya

"Nyanyian untuk Italia" (1829, puisi)

Hanz Küchelgarten (1829, puisi naratif, diterbitkan dengan nama samaran "V. Alov")

"Perempuan" (1830, cerpen)

Malam Hari di Pertanian Dekat Dikanka (1831-1832, kumpulan cerpen)

"Pasar Malam di Sorochintsï" (dasar untuk opera dengan judul yang sama) karya Mussorgsky

"Malam St. Yohanes" (dasar untuk karya orkestra Mussorgsky yang terkenal dengan judul Night on Bald Mountain)

"Malam bulan Mei" (dasar untuk opera dengan judul yang sama oleh Rimsky-Korsakov dan opera Mykola Lysenko, The Drowned Maiden [Utoplena])

"Surat yang Hilang: Cerita yang disampaikan oleh Pendeta dari Gereja N..."

"Malam Natal" (dasar untuk beberapa opera, termasuk Cherevichki oleh Tchaikovsky (versi revisi dari Vakula the Smith), opera dengan judul yang sama dari Rimsky-Korsakov, dan oleh Mykola Lysenko dengan judul yang sama (dalam bahasa Ukraina) Rivnaja nič)

"Pembalasan yang Mengerikan"

"Ivan Fedorovic Sponka dan Bibinya"

"A Bewitched Place"

Mirgorod (1835, kumpulan cerpen)

"Tuan Tanah dari Dunia Lama"

Taras Bulba (dasar untuk opera dengan judul yang sama oleh Mykola Lysenko)

"Viy"

"Bagaimana Dua Ivan Bertengkar"

Arabesques (1835, kumpulan cerpen)

"Potret (cerpen)"

"Sebuah Bab dari sebuah Novel Sejarah" (fragmen)

"Nevsky Prospect"

"Tahanan" (fragmen)

Buku Harian Seorang Gila (novel)

"Hidung" (1836, cerpen, dasar untuk opera oleh Dmitri Shostakovich)

"Kereta Kuda" (1836, cerpen)

Inspektur Jenderal (1836, drama) (difilmkan di Indonesia dengan judul "Tamu Agung" oleh Usmar Ismail pada 1955)

"Pulang dari Teater" (1842, esai)

"Roma" (1842, fragmen)

"Mantel" (1842, cerpen)

Perkawinan (1842, drama, babak pertama diadaptasi oleh Mussorgsky sebagai opera dengan nama yang sama, diselesaikan oleh Mikhail Ippolitov-Ivanov)

Jiwa-jiwa Mati (1842, novel)

Bagian-bagian Terpilih dari Korespondensi dengan Teman-temannya (1847, kumpulan surat dan esai)

"Meditasi atas Liturgi Suci"


id.wikipedia.org/wiki/Nikolai_Gogol

Rabu, 08 Oktober 2008

ALBERT CAMUS

Albert Camus (dilafazkan sebagai [al'bɛr ka'my]) (Mondovi (sekarang Deraan), Aljazair, 7 November 1913Villeblin, 5 Januari 1960) adalah seorang penulis/filsuf Perancis kelahiran Aljazair. Seringkali ia digolongkan sebagai seorang penulis eksistensialis, tetapi kemungkinan ia lebih tepat disebut sebagai seorang absurdis. Camus adalah seorang keturunan Spanyol.

Pada tahun 1957 ia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra, tetapi ditolak. Ia teman Jean Paul Sartre, seorang sastrawan eksistensialis dan Simone de Beauvoir. Ia meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Villeblevin pada 5 Januari 1960.

http://id.wikipedia.org/wiki/Albert_Camus

Albert Camus (French pronunciation: [albɛʁ kamy]) (7 November 1913 – 4 January 1960) was an Algerian-born French author, philosopher, and journalist who won the Nobel prize in 1957. He is often associated with existentialism, but Camus refused this label. On the other hand, as he wrote in his essay The Rebel, his whole life was devoted to opposing the philosophy of nihilism. On the subject of his belief or not in God, he writes in the third volume of his notebooks: "I do not believe in God and I am not an atheist."

In 1949, Camus founded the Group for International Liaisons in the Revolutionary Union Movement, according to the book Albert Camus, une vie by Olivier Todd, a group opposed to the atheist and communistic tendencies of the surrealistic movement of André Breton. Camus was the second-youngest recipient of the Nobel Prize for Literature (after Rudyard Kipling) when he became the first African-born writer to receive the award, in 1957. He is also the shortest-lived of any literature laureate to date, having died in an automobile accident only three years after receiving the award.

Camus preferred to be known as a man and a thinker, rather than as a member of a school or ideology. He preferred persons over ideas. In an interview in 1945, Camus rejected any ideological associations: "No, I am not an existentialist. Sartre and I are always surprised to see our names linked…"[1]

Early years

Albert Camus was born on 7 November 1913 in Mondovi, Algeria to a French-Algerian (pied-noir) settler family. His mother was of Spanish extraction and was half-deaf. His father, Lucien, died in the Battle of the Marne in 1914 during the First World War, while serving as a member of the Zouave infantry regiment. Camus lived in poor conditions during his childhood in the Belcourt section of Algiers. In 1923, he was accepted into the lycée and eventually to the University of Algiers. However, he contracted tuberculosis in 1930, which put an end to his football activities (he had been a goalkeeper for the university team) and forced him to make his studies a part-time pursuit. He took odd jobs including private tutor, car parts clerk and work for the Meteorological Institute. He completed his licence de philosophie (BA) in 1935; in May 1936, he successfully presented his thesis on Plotinus, Néo-Platonisme et Pensée Chrétienne, for his diplôme d'études supérieures (roughly equivalent to an M.A. by thesis).

Camus joined the French Communist Party in the Spring of 1935 seeing it as a way to "fight inequalities between Europeans and 'natives' in Algeria", he did not suggest he was a Marxist or that he had read Das Kapital, but did write that "[w]e might see communism as a springboard and asceticism that prepares the ground for more spiritual activities".[2] In 1936, the independence-minded Algerian Communist Party (PCA) was founded. Camus joined the activities of the Algerian People's Party (Le Parti du Peuple Algérien), which got him into trouble with his Communist party comrades. As a result, he was denounced as a Trotskyite and expelled from the party in 1937. Camus went on to be associated with the French anarchist movement. The anarchist Andre Prudhommeaux first introduced him at a meeting in 1948 of the Cercle des Etudiants Anarchistes (Anarchist Student Circle) as a sympathiser who was familiar with anarchist thought. Camus went on to write for anarchist publications such as Le Libertaire, La révolution Proletarienne and Solidaridad Obrera (the organ of the anarcho-syndicalist CNT). Camus also stood with the anarchists when they expressed support for the uprising of 1953 in East Germany. He again stood with the anarchists in 1956, first with the workers’ uprising in Poznan, Poland, and then later in the year with the Hungarian Revolution.

In 1934, he married Simone Hie, a morphine addict, but the marriage ended as a consequence of infidelities on both sides. In 1935, he founded Théâtre du Travail — "Worker's Theatre" — (renamed Théâtre de l'Equipe ("Team's Theatre") in 1937), which survived until 1939. From 1937 to 1939 he wrote for a socialist paper, Alger-Républicain, and his work included an account of the peasants who lived in Kabylie in poor conditions, which apparently cost him his job. From 1939 to 1940, he briefly wrote for a similar paper, Soir-Republicain. He was rejected by the French army because of his tuberculosis.

In 1940, Camus married Francine Faure, a pianist and mathematician. Although he loved Francine, he had argued passionately against the institution of marriage, dismissing it as unnatural. Even after Francine gave birth to twins, Catherine and Jean, on 5 September 1945, he continued to joke wearily to friends that he was not cut out for marriage. Camus conducted numerous affairs, particularly an irregular and eventually public affair with the Spanish-born actress Maria Casares. In the same year Camus began to work for Paris-Soir magazine. In the first stage of World War II, the so-called Phony War stage, Camus was a pacifist. However, he was in Paris to witness how the Wehrmacht took over. On 15 December 1941, Camus witnessed the execution of Gabriel Péri, an event that Camus later said crystallized his revolt against the Germans. Afterwards he moved to Bordeaux alongside the rest of the staff of Paris-Soir. In the same year he finished his first books, The Stranger and The Myth of Sisyphus. He returned briefly to Oran, Algeria in 1942.

Literary career

During the war Camus joined the French Resistance cell Combat, which published an underground newspaper of the same name. This group worked against the Nazis, and in it Camus assumed the nom de guerre "Beauchard". Camus became the paper's editor in 1943, and when the Allies liberated Paris, Camus reported on the last of the fighting. He was, however, one of the few French editors to publicly express opposition to the use of the atomic bomb in Hiroshima soon after the event on 8 August 1945. He eventually resigned from Combat in 1947, when it became a commercial paper. It was then that Camus became acquainted with Jean-Paul Sartre.

After the war, Camus began frequenting the Café de Flore on the Boulevard Saint-Germain in Paris with Sartre and others. Camus also toured the United States to lecture about French thinking. Although he leaned left politically, his strong criticisms of Communist doctrine did not win him any friends in the Communist parties and eventually also alienated Sartre.

In 1949 his tuberculosis returned and he lived in seclusion for two years. In 1951 he published The Rebel, a philosophical analysis of rebellion and revolution which made clear his rejection of communism. The book upset many of his colleagues and contemporaries in France and led to the final split with Sartre. The dour reception depressed him and he began instead to translate plays.

Camus' first significant contribution to philosophy was his idea of the absurd, the result of our desire for clarity and meaning within a world and condition that offers neither, which he explained in The Myth of Sisyphus and incorporated into many of his other works, such as The Stranger and The Plague. Despite the split from his "study partner," Sartre, some still argue that Camus falls into the existentialist camp. However, he rejected that label himself in his essay Enigma and elsewhere (see: The Lyrical and Critical Essays of Albert Camus). The current confusion may still arise as many recent applications of existentialism have much in common with many of Camus' practical ideas (see: Resistance, Rebellion, and Death). However, the personal understanding he had of the world (e.g. "a benign indifference", in The Stranger), and every vision he had for its progress (i.e. vanquishing the "adolescent furies" of history and society, in The Rebel) undoubtedly sets him apart.

In the 1950s Camus devoted his efforts to human rights. In 1952 he resigned from his work for UNESCO when the UN accepted Spain as a member under the leadership of General Franco. In 1953 he criticized Soviet methods to crush a workers' strike in East Berlin. In 1956 he protested against similar methods in Poland (protests in Poznań) and the Soviet repression of the Hungarian revolution in October.

The monument to Camus built in the small town of Villeblevin, France where he died in an automobile accident on 4 January 1960

He maintained his pacifism and resistance to capital punishment anywhere in the world. One of his most significant contributions to the movement against capital punishment was an essay collaboration with Arthur Koestler, the writer, intellectual and founder of the League Against Capital Punishment.

When the Algerian War began in 1954 it presented a moral dilemma for Camus. He identified with pied-noirs, and defended the French government on the grounds that the revolt in Algeria was really an integral part of the 'new Arab imperialism' led by Egypt and an 'anti-Western' offensive orchestrated by Russia to 'encircle Europe' and 'isolate the United States'.[3] Although favouring greater Algerian autonomy or even federation, though not full-scale independence, he believed that the pied-noirs and Arabs could co-exist. During the war he advocated civil truce that would spare the civilians, which was rejected by both sides who regarded it as foolish. Behind the scenes, he began to work for imprisoned Algerians who faced the death penalty.

From 1955 to 1956 Camus wrote for L'Express. In 1957 he was awarded the Nobel Prize in literature "for his important literary production, which with clear-sighted earnestness illuminates the problems of the human conscience in our times.", officially not for his novel The Fall, published the previous year, but for his writings against capital punishment in the essay Réflexions sur la Guillotine. When he spoke to students at the University of Stockholm, he defended his apparent inactivity in the Algerian question and stated that he was worried about what might happen to his mother, who still lived in Algeria. This led to further ostracism by French left-wing intellectuals.

The Revolutionary Union Movement and the European Union

In 1949 Camus founded the Group for International Liaisons in the Revolutionary Union Movement.[2] With George Orwell, he opposed totalitarian regimes in the East and the West.

As he wrote in L'Homme révolté (in the chapter about "The Thought on Midday") he was a follower of the ancient Greek 'Solar Tradition' (la pensée solaire). So, not only he was the leader of the French resistance movement "Combat" but he also set up in 1947-8 the Revolutionary Union Movement (Groupes de liaison internationale - GLI) which was formed in 1949 and can be described as a trade union movement in the context of revolutionary syndicalism (Syndicalisme révolutionnaire). For more, see the book : Alfred Rosmer et le mouvement révolutionnaire internationale by Christian Gras).

His colleagues were Nicolas Lazarévitch, Louis Mercier, Roger Lapeyre, Paul Chauvet, Auguste Largentier, Jean de Boë (see the article: "Nicolas Lazarévitch, Itinéraire d'un syndicaliste révolutionnaire" by Sylvain Boulouque in the review Communisme, n° 61, 2000). His main aim was to express the positive side of Surrealism and Existentialism, rejecting the negativity and the nihilism of André Breton and Jean-Paul Sartre.

In 1944 Camus founded the "French Committee for the European Federation" (Comité Français pour la Féderation Européene -CFFE) declaring that Europe "can only evolve along the path of economic progress, democracy and peace if the nation states become a federation".

From 1943, Albert Camus had correspondence with Altiero Spinelli who founded the European Federalist Movement in Milan (see Ventotene Manifesto and the book "Unire l'Europa, superare gli stati", Altiero Spinelli nel Partito d'Azione del Nord Italia e in Francia dal 1944 al 1945-annexed a letter by Altiero Spinelli to Albert Camus).

In 22-25 March 1945, the first conference of the European Federalist Movement was organised in Paris with the participation of Albert Camus, George Orwell, Emmanuel Mounier, Lewis Mumford, André Philip, Daniel Mayer, François Bondy and Altiero Spinelli (see the book "The Biography of Europe" by Pan Drakopoulos). This specific branch of the European Federalist Movement disintegrated in 1957 after the domination of Winston Churchill's ideas about the European integration.

Camus and Orwell

Three essays by Dr. Miho Takashima in the International Journal of Humanities ("Revolt and Equilibrium: A Comparative Study of Nineteen Eighty-Four and L'Homme Révolté, the Views and Struggles of Orwell and Camus", "Art and Representation: A Comparative Study of George Orwell and Albert Camus on their Literary Works", and "George Orwell and Albert Camus: A Comparative Study – Their Views and Dilemmas in the Politics of the 1930s and 40s") explore the relation between the work of the French writer Albert Camus and the English writer George Orwell.

Takashima argues that Orwell—perhaps intentionally, in order to warn the intellectual elite—compromised with "Big Brother", while Camus confronted with The Plague. This is observed not only in the comparison between Nineteen Eighty-Four and The Rebel but, especially, in Camus' play The State of Siege.[citation needed] This theatrical play was written together with the novel The Plague and the essay The Rebel. It is the work which—according to Camus himself[citation needed]—represents him best and is a response to George Orwell's Nineteen Eighty-Four. The hero, Diego, opposes the totalitarian dictator named Plague, and dies in order to set a Spanish town free from the Inquisition.

The State of Siege is a work against totalitarianism, written in the same epoch when Camus' idol,[citation needed] George Orwell, wrote Nineteen Eighty-Four. The play includes an allegorical reference to the end of Orwell's novel.

The original title of The State of Siege was The Holy Inquisition in Cadix.[citation needed] In the French edition of the book, Camus has included an essay under the title "Why Spain?". In this polemical text, he answers his Catholic friend Gabriel Marcel who criticized him for setting the plot in Spain. Here Camus expresses his opposition to the totalitarian regimes of the West, and to the behavior of the Vatican and the Pope during World War II. The most important phrase of this essay is "Why Guernica, Gabriel Marcel?".

Albert Camus' Death

Camus died on 4 January 1960 in an automobile accident near Sens, in a place named "Le Grand Fossard" in the small town of Villeblevin. In his coat pocket lay an unused train ticket. It is possible that he had planned to travel by train, but decided to go by car instead.[4]

The driver of the Facel Vega car, Michel Gallimard — his publisher and close friend — also perished in the accident. Camus was interred in the Lourmarin Cemetery, Lourmarin, Vaucluse, Provence-Alpes-Côte d'Azur, France.

He was survived by his twin children, Catherine and Jean, who hold the copyrights to his work.

After his death, two of Camus' works were published posthumously. The first, entitled A Happy Death published in 1970, featured a character named Meursault, as in The Stranger, but there is some debate as to the relationship between the two stories. The second posthumous publication was an unfinished novel, The First Man, that Camus was writing before he died. The novel was an autobiographical work about his childhood in Algeria and was published in 1995.

Summary of Absurdism

Many writers have written on the Absurd, each with his or her own interpretation of what the Absurd actually is and their own ideas on the importance of the Absurd. For example, Sartre recognizes the absurdity of individual experience, while Kierkegaard explains that the absurdity of certain religious truths prevent us from reaching God rationally. Camus was not the originator of Absurdism and regretted the continued reference to him as a philosopher of the absurd. He shows less and less interest in the Absurd shortly after publishing Le Mythe de Sisyphe (The Myth of Sisyphus). To distinguish Camus' ideas of the Absurd from those of other philosophers, people sometimes refer to the Paradox of the Absurd, when referring to Camus' Absurd.

His early thoughts on the Absurd appeared in his first collection of essays, L'Envers et l'endroit (The Two Sides Of The Coin) in 1937. Absurd themes appeared with more sophistication in his second collection of essays, Noces (Nuptials), in 1938. In these essays Camus does not offer a philosophical account of the Absurd, or even a definition; rather he reflects on the experience of the Absurd. In 1942 he published the story of a man living an Absurd life as L'Étranger (The Stranger), and in the same year released Le Mythe de Sisyphe (The Myth of Sisyphus), a literary essay on the Absurd. He had also written a play about a Roman Emperor, Caligula, pursuing an Absurd logic. However, the play was not performed until 1945. The turning point in Camus' attitude to the Absurd occurs in a collection of four letters to an anonymous German friend, written between July 1943 and July 1944. The first was published in the Revue Libre in 1943, the second in the Cahiers de Libération in 1944, and the third in the newspaper Libertés, in 1945. All four letters have been published as Lettres à un ami allemand (Letters to a German Friend) in 1945, and have appeared in the collection Resistance, Rebellion, and Death.

Camus' ideas on the Absurd

In his essays Camus presented the reader with dualisms: happiness and sadness, dark and light, life and death, etc. His aim was to emphasize the fact that happiness is fleeting and that the human condition is one of mortality. He did this not to be morbid, but to reflect a greater appreciation for life and happiness. In Le Mythe, this dualism becomes a paradox: We value our lives and existence so greatly, but at the same time we know we will eventually die, and ultimately our endeavours are meaningless. While we can live with a dualism (I can accept periods of unhappiness, because I know I will also experience happiness to come), we cannot live with the paradox (I think my life is of great importance, but I also think it is meaningless). In Le Mythe, Camus was interested in how we experience the Absurd and how we live with it. Our life must have meaning for us to value it. If we accept that life has no meaning and therefore no value, should we kill ourselves?

Meursault, the Absurdist hero of L'Étranger, is a murderer who is executed for his crime. Caligula ends up admitting his Absurd logic was wrong and is killed by an assassination he has deliberately brought about. However, while Camus possibly suggests that Caligula's Absurd reasoning is wrong, the play's anti-hero does get the last word, as the author similarly exalts Meursault's final moments.

Camus' understanding of the Absurd promotes public debate; his various offerings entice us to think about the Absurd and offer our own contribution. Concepts such as cooperation, joint effort and solidarity are of key importance to Camus.

Camus made a significant contribution to a viewpoint of the Absurd, and always rejected nihilism as a valid response.

"If nothing had any meaning, you would be right. But there is something that still has a meaning." Second Letter to a German Friend, December 1943.

What still had meaning for Camus is that despite humans being subjects in an indifferent and "absurd" universe, in which meaning is challenged by the fact that we all die, meaning can be created, however provisionally and unstably, by our own decisions and interpretations.

Opposition to totalitarianism

Throughout his life, Camus spoke out against and actively opposed totalitarianism in its many forms.[5] Early on, Camus was active within the French Resistance to the German occupation of France during World War II, even directing the famous Resistance journal, Combat. On the French collaboration with Nazi occupiers he wrote:

Now the only moral value is courage, which is useful here for judging the puppets and chatterboxes who pretend to speak in the name of the people [6]

Camus' well-known falling out with Sartre is linked to this opposition to totalitarianism. Camus detected a reflexive totalitarianism in the mass politics espoused by Sartre in the name of radical Marxism. This was apparent in his work L'Homme Révolté (The Rebel) which not only was an assault on the Soviet police state, but also questioned the very nature of mass revolutionary politics. Camus continued to speak out against the atrocities of the Soviet Union, a sentiment captured in his 1957 speech, The Blood of the Hungarians, commemorating the anniversary of the 1956 Hungarian Revolution, an uprising crushed in a bloody assault by the Red Army.

Camus and solidarity

Solidarity in The Stranger

In The Stranger, Albert Camus characterizes his justification of the absurd through the experiences of a protagonist who simply does not conform to the system. His inherent honesty disturbs the status quo; Meursault's inability to lie cannot seamlessly integrate him within society and in turn threatens the simple fabrics of human mannerisms expected of a structurally ordered society. Consequently, the punishment for his crime is not decided on the basis of murder, but rather for the startling indifference towards his mother's recent death. Even after a conflicting spiritual discussion with a pastor inciting Meursault to consider a possible path towards redemption, the latter still refuses to take upon salvation and symbolizes his ultimatum by embracing the "gentle indifference of the world"; an act which only furthers his solidarity with a society incapable of realizing his seemingly inhumane and misanthropic behavior.

Solidarity in The Plague

The plague is an undeniable part of life. As posited in The Plague, it is omnipresent, just like death was always an impeding factor in The Stranger. Albert Camus once again questions the meaning of the moral concepts justifying humanity and human suffering within a religious framework. For Camus, the rationale behind Christian doctrine is useless; as mortal beings, we cannot successfully rationalize the impending and inescapable death sentence forced upon every human. The plague, which befalls upon Oran, is a concrete and tangible facilitator of death. Ultimately, the plague enables people to understand that their individual suffering is meaningless. As the epidemic "evolves" within the seasons, so do the citizens of Oran, who instead of willfully giving up to a disease they have no control over, decide to fight against their impending death, thus unwillingly creating optimism in the midst of hopelessness. This is where Camus channels his thoughts behind the importance of solidarity: although the plague is still primarily an agent of death, it provides the uncanny opportunity for people to realize that individual suffering is absurd. In the midst of complete suffering, the challenging response adopted by the majority of the citizens of Oran demonstrates an inexplicable humanistic connection between distraught and distant characters. Only by taking the choice to fight an irreversible epidemic are people able to create the ever-lacking meaning to a life destined for execution the moment of its creation.

Camus and football

Camus was once asked by his friend Charles Poncet which he preferred, football or the theatre. Camus is said to have replied, "Football, without hesitation."[7]

Camus played as goalkeeper for Racing Universitaire Algerios (RUA won both the North African Champions Cup and the North African Cup twice each in the 1930s) junior team from 1928–30.[8] The sense of team spirit, fraternity, and common purpose appealed to Camus enormously.[9] In match reports Camus would often attract positive comment for playing with passion and courage. Any aspirations in football disappeared at age 17, upon contracting tuberculosis—then incurable, Camus was bedridden for long and painful periods.

When Camus was asked in the 1950s by an alumni sports magazine for a few words regarding his time with the RUA, his response included the following:

After many years during which I saw many things, what I know most surely about morality and the duty of man I owe to sport and learned it in the RUA. [7]

Camus was referring to a sort of simplistic morality he wrote about in his early essays, the principle of sticking up for your friends, of valuing bravery and fair-play. Camus' belief was that political and religious authorities try to confuse us with over-complicated moral systems to make things appear more complex than they really are, potentially to serve their own needs.

Bibliography

Novels

Short stories

Non-fiction

Essays

Plays

Collections

  • Resistance, Rebellion, and Death (1961) - a collection of essays selected by the author.
  • Lyrical and Critical Essays (1970)
  • Youthful Writings (1976)
  • Between Hell and Reason: Essays from the Resistance Newspaper "Combat", 1944-1947 (1991)
  • Camus at "Combat": Writing 1944-1947 (2005

Cultural influences

Film

Several of Camus' works have been adapted into movies. The Stranger has been adapted into an Italian 1967 movie by Luchino Visconti, and also to a 2001 Turkish adaptation titled Yazgi (Fate) by Zeki Demirkubuz. The Plague was adapted to a 1992 film titled La Peste by Luis Puenzo and set in modern day America

Music

Quite a few musical artists refer to Camus and his work in their music. The post-punk band The Fall took their name from Camus' novel The Fall. These also include an album by Jeff Martin(Exile and the Kingdom, 2006) and songs by Gentle Giant ("A Cry for Everyone", 1972), The Cure ("Killing an Arab", 1978), Tuxedomoon ("The Stranger", 1979), Digable Planets ("Reachin' (A New Refutation of Time and Space)", 1993) The Magnetic Fields ("I Don't Want To Get Over You", 1999), The Manic Street Preachers ("The Masses Against The Classes", 2000), JJ72 ("Algeria", 2000), Suede ("Obsessions", 2002), Streetlight Manifesto ("Here's To Life", 2003), A Perfect Circle ("A Stranger" and "The Outsider", 2003), Angela McCluskey ("Know it All", 2004), Joanna Newsom ("This Side of the Blue", 2004), Tarkio ("Neapolitan Bridesmaid", 2006), The Independence, ("20-Ought-Almost-Talkin' Blues"), 2008.

Anti-folk singer-songwriter Jeffrey Lewis references Camus, as well as Bob Dylan and Allen Ginsberg, in a 2005 song, "Williamsburg Will Oldham Horror" in the line, "And I'm sure the thing is probably Dylan himself too, stayed up some nights wishing he was as good as Ginsberg or Camus."

References

1. ^ Les Nouvelles litteraires, 15 November 1945

2. ^ a b Todd, O Albert Camus: A Life, p37, 250, Alfred A. Knopf, 1998; Carroll & Graf, 2000.

3. ^ Actuelles III: Chroniques Algeriennes, 1939–58

4. ^ KIAD MA in Fine Art: a student run seminar

5. ^ Interview with Catherine Camus

6. ^ http://64.233.183.104/search?q=cache:becLSqP2AvMJ:query.nytimes.com/gst/fullpage.html%3Fres%3D9806EED9113FF93AA25751C1A961958260%26sec%3D%26spon%3D%26pagewanted%3Dall+Now+the+only+moral+value+is+courage,+which+is+useful+here+for+judging+the+puppets+and+chatterboxes&hl=en&ct=clnk&cd=1&gl=uk In Camus' notebooks and letters, as quoted in Albert Camus A Life By Olivier Todd.

7. ^ a b Albert Camus and football

8. ^ RedHotPawn.com : General : Yan!! Camus

9. ^ Ashley Lattal'S Paper: Albert Camus

en.wikipedia.org/wiki/Albert_Camus

Albert Camus (1913-1960) was a representative of non-metropolitan French literature. His origin in Algeria and his experiences there in the thirties were dominating influences in his thought and work. Of semi-proletarian parents, early attached to intellectual circles of strongly revolutionary tendencies, with a deep interest in philosophy (only chance prevented him from pursuing a university career in that field), he came to France at the age of twenty-five. The man and the times met: Camus joined the resistance movement during the occupation and after the liberation was a columnist for the newspaper Combat. But his journalistic activities had been chiefly a response to the demands of the time; in 1947 Camus retired from political journalism and, besides writing his fiction and essays, was very active in the theatre as producer and playwright (e.g., Caligula, 1944). He also adapted plays by Calderon, Lope de Vega, Dino Buzzati, and Faulkner's Requiem for a Nun. His love for the theatre may be traced back to his membership in L'Equipe, an Algerian theatre group, whose "collective creation" Révolte dans les Asturies (1934) was banned for political reasons.

The essay Le Mythe de Sisyphe (The Myth of Sisyphus), 1942, expounds Camus's notion of the absurd and of its acceptance with "the total absence of hope, which has nothing to do with despair, a continual refusal, which must not be confused with renouncement - and a conscious dissatisfaction". Meursault, central character of L'Étranger (The Stranger), 1942, illustrates much of this essay: man as the nauseated victim of the absurd orthodoxy of habit, later - when the young killer faces execution - tempted by despair, hope, and salvation. Dr. Rieux of La Peste (The Plague), 1947, who tirelessly attends the plague-stricken citizens of
Oran, enacts the revolt against a world of the absurd and of injustice, and confirms Camus's words: "We refuse to despair of mankind. Without having the unreasonable ambition to save men, we still want to serve them". Other well-known works of Camus are La Chute (The Fall), 1956, and L'Exile et le royaume (Exile and the Kingdom), 1957. His austere search for moral order found its aesthetic correlative in the classicism of his art. He was a stylist of great purity and intense concentration and rationality.

From Nobel Lectures, Literature 1901-1967, Editor Horst Frenz, Elsevier Publishing Company, Amsterdam, 1969

This autobiography/biography was first published in the book series Les Prix Nobel. It was later edited and republished in Nobel Lectures. To cite this document, always state the source as shown above.

Albert Camus died on January 4, 1960.

http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1957/camus-bio.html

novel sampar albert camus - kado ultah untuk gadis arivia

Hudan Hidayat
Mon, 08 Sep 2008 23:21:39 -0700

Novel sampar albert camus
Kado ultah buat gadis arivia
 
saya membaca karya seni, dengan memenggal tubuhnya sendiri. keutuhan sebuah 
novel misalnya, saya turunkan bukan ke dalam kejadian atau bulatnya peristiwa 
dalam novel, tapi saya letakkan dalam perspektif diri yang hendak mencari oase. 
oase dari hidup yang berat dari peristiwa yang berat, di mana  jiwa membutuhkan 
lumbung lindung. Atau, mana kala dunia malam sudah kehilangan pesonanya, maka 
karya sastralah tempat kita berteduh.
 
begitulah saya berpaling kepada novel sampar, bukan terutama pada moral yang 
dituturkan dengan kata "sampar" itu. tapi pada relasi sedih dari tokoh tokoh 
inti novel sampar. 
 
sampar memang lambang dari rumpalnya dunia, dari dikotomi yang tak terselamat: 
rentang yang meruang dan meraung, ke dalam belahan nasib baik, di mana manusia 
bahagia memandang laut yang berkilau, atau bayang pepohonan di kejauhan. tapi 
juga riwayat perang, yang menimbulkan derita dan sedih di hati.
 
Untuk kita, sampar adalah kaca buram, di mana diri bisa berkaca. bahwa wajah 
buram kita dalam kaca. buram dari jerit yang kita teriakkan. imbas dari hidup 
yang tak memiliki jalan keluar, di mana orang terbuang sia sia ke dalam, atau 
terpintal menjadi, laba laba para pemimpin, dari masyarakat yang retak dua: 
lain ucapan lain pula tindakannya.
 
saya tidak tergoda pada ideal dokter riuex  akan hidup. riuex pun tahu: apa 
yang ideal adalah kehidupan yang bahagia tanpa derita, adalah kabar yang 
timpang turun ke bumi. Selalu, dalam bahagia yang turun itu, mengintip nestapa 
dari derita hidup kita sendiri. 
 
karena itu walau rieux seolah memejamkan mata dengan tetap memeluk dunia 
abstrak itu, dan tetap keras kepala memperjuangkannya dalam kenyataan, saya 
menjauh dan agak berpisah jalan. biarlah perjuangan semacam itu diambil dan 
diusung para aktifis, yang memang cinta pada dunia keselamatan manusia. Saya, 
biarlah memungut dunia kesedihan di dalamnya.
 
begitulah saya terpesona, akan nasib grand yang malang. lelaki ini, dalam novel 
sampar camus itu, adalah representasi dari kemurnian hati, ketimbang cabang 
pikiran. grand hidup tanpa daya dan berjalan apa adanya. ia cuma lelaki tua 
yang tak kuasa menoleh, betapa bahwa hidupnya telah hancur di makan perasaan 
cinta pada jena bekas istrinya - sebuah perasaan yang tak nampak ke permukaan, 
tapi menghancurkan di dalam. Seolah ulat di hati. 
 
dan ulat di hati itu memainkan dirinya ke dalam bahasa. permainan yang dimulai 
saat kehidupan kritis manusia tersingkap. 
 
kita perlu mencatat dan mengungkap momen kritis. bahwa dalam momen kritis 
semacam itu, manusia menampakkan hatinya dan kelihatanlah warna aslinya. grand 
yang tua membuat novel, seolah ia menghidupkan jena dalam kenangan. bukan dari 
struktur kisah yang menceritakan ke dalam detil novel, ke dalam peristiwa 
kejadian dalam novel. ia hanya memenuhi sekujur tubuh novel dengan hanya 
mengungkap kerinduan hati. seolah repetisi. dari pengulangan mimpi mimpinya 
yang memanggil manggil dalam hidupnya.
 
jen telah pergi dan tak pernah kembali lagi. 
 
hari ini natal jen, katanya sambil berkaca kaca bersandar di tembok sebuah toko 
perhiasan. tapi engkau di mana? 
 
hiduplah dialog singkat tapi mematikan itu. aku tak bahagia pergi tapi aku tak 
bahagia hidup bersamamu lagi. begitulah suara hati jena saat sebelum menghilang.
 
begitulah novel itu hanya berisi lima puluh halaman dari kata kata yang 
mengulang, kata kata yang dibolak balik seolah ingin mendapatkan kesempurnaan 
dari hidup yang tak sempurna. seolah ingin menggapai bahagia dari hidupnya yang 
tak bahagia.
 
apakah kesan kalau laku subjektif grand yang mengenang bekas perempuannya itu 
sebagai sebuah tindakan yang tak tahu diri, di tengah bencana penyakit sampar 
membunuh seluruh penduduk kota oran? 
 
apakah begitu kesannya? 
 
tentu tidak. tidak dari kenyataan bahwa grand sendiri dengan caranya yang khas 
adalah juga aktifis, yang mendampingi dokter riuex di tahun tahun yang sukar 
itu. tapi tidak juga dalam kenyataan gerak seluruh cerita. 
 
seolah laku grand adalah kontras: lihat dan dengarlah wahai manusia, atau kalau 
ditempatkan ke dalam jiwa novel: lihat dan dengar lah wahai tuhan, kami di sini 
memang hampir mati, tapi kami masih bisa bahagia dengan mengenang. kami melawan 
takdir yang engkau jatuhkan dengan dunia ciptaan. kami kalah, tapi kami menang 
karena masih bisa bahagia dengan ciptaan. 
 
Berbahagia dengan kenangan agaknya sudah cukup bagi grand. dan saat penyakit 
sampar itu menusukknya dari dua jurusan, di ranjang kematiannya ia bangkit dan 
meminta dokter rieux membacakan bisikan hatinya. riuex pun membacakanya untuk 
grand dan untuk dirinya sendiri:
 
"di pagi mei yang cerah, seorang wanita langsing menunggang kuda alezane yang 
megah, berjalan di tengah-tengah bunga jalan setapak di bois..."
 
itulah penggalan hidup dari seorang lelaki tua romantic, yang telah kehilangan 
bahagia dalam hidupnya. seolah kutuk sampar yang menyukarkan berkumpul dan 
menusuknya: kutuk dari sebuah kisah cinta yang kehilangan tangannya. tangan 
dalam bentuk wanita bernama jena.
 
grand tokoh penuh perasaan terlihat lucu, dari kehidupan keras semacam itu. 
maka betapa haru ketika kutuk sampar sosial dan kutuk sampar yang masuk ke 
dalam hati grand, diungkapnya dengan kata kata kepada rieux sehari menjelang 
keadaannya yang kritis:
 
"saya ingin mempunyai waktu buat menulis surat kepadanya. supaya dia tahu... 
dan supaya dia dapat berbahagia tanpa sesalan..."
 
tapi dalam kenyataan, ideal seperti itu ibarat cangkir air yang dituang penuh 
air, sehingga air melimpah keluar sia sia, ironi. cinta datang dan mungkin 
masih terselip di hati. Tapi kenangan terbenam dalam keruwetan hidup yang minta 
dipenuhi.
 
Itulah absurditas itu. 
 
Absurditas dari dunia keindahan ideal yang agaknya memang hanya ada di dunia 
novel. sedang di dunia nyata, kita berkubang dan terjerembab dengan sesuatu 
yang tak ideal dari kenyataan hidup.
 
Adalah menarik membayangkan jena. Di manakah dia dan sedang apakah dia? 
 
Jen memang tak pernah hadir di dalam novel itu, hanya sengkarut di dalam 
kenangan dan pikiran grand. Tahukah jen bahwa grand mantan suaminya masih 
mengenangkan dia? Inilah kawawasan lubang dari sebuah novel. tempat di mana 
kita bisa bermain main mengisinya dengan imaji. Imaji pembayangkan akan 
seseorang yang tak pernah hadir di dalam novel, tapi bisa kita jejak tiap tiap 
kemungkinannya. Jena yang malang mungkin bahagia. Dan kalau benar seperti ini, 
alangkah malang dan alangkah ironis hidup grand: pada saat dirinya terbuang 
dalam cinta, pada saat yang sama orang yang dicinta bahagia dengan lelaki di 
dunia sana.
 
Manakah yang benar? Camus sebagai pengarang tentulah tidak tahu, sebagaimana 
kita sebagi pembaca juga tidak tahu. Tokoh dalam novel pada suatu titik pergi 
dari pena pengarang, berjalan menempuh hidupnya sendiri.  Seperti jena bekas 
istri grand.
 
Tetapi ketidakidealan seperti itulah yang membuat orang terus menulis. Menggali 
jiwanya dan menghayati pengalaman pribadinya. 
 
Apakah diri dengan mimpi buruk dan mimpi ngeri ini? Diri yang terbenam dan 
berkubang dengan segala kecamuk. Apakah diri karena itu meminta sesuatu yang 
mengelupas, ibarat ular berganti kulit? Tapi ular yang berganti kulit itu tak 
kuasa juga untuk tak beranjak ke bukit bukit, kalau panggilan suara absurd 
tualang itu memanggil manggilnya. Ia pun bangkit. Pergi menemui malamnya dan 
pergi memenuhi panggilan tualang cintanya.
 
Perempuan di hati camus, dan di dalam novelnya sampar itu, adalah perempuan 
yang luar biasa. Luar biasa dari sosok ibu dokter riuex. Siapakah nama 
perempuan itu? Rieux tak memberikan nama untuk ibunya. Solah tanpa nama 
perempuan itu menjelma menjadi perempuan perempuan seluruh dunia, sebagai 
symbol, sebagai lambang, dari pengertian dan ketegaran akan hidup. Perempuan di 
mana hati lelaki tergantung. Perempuan di mana diri lelaki terus berpaling 
justru di saat saat sukar hidup mereka.
 
(hudan hidayat)

http://www.mail-archive.com/artculture-indonesia@yahoogroups.com/msg01643.html